Meneladani Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Bahaya Lisan
Oleh KUA Wangon
Banyumas – Jamaah Majelis Taklim Al-Barokah Desa Rawaheng, Kecamatan Wangon, antusias mengikuti kegiatan penyuluhan bidang akhlak. Pengajian kali ini mengangkat tema khusus mengenai keutamaan diam dari membicarakan keburukan orang lain dengan merujuk pada kitab klasik Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan ini bertujuan untuk membentengi spiritualitas warga serta meminimalisir gesekan sosial yang sering kali dipicu oleh penyebaran aib atau berita yang tidak benar di tengah masyarakat. Rabu (13/05)
Penyuluh Agama Islam, Joharulloh, dalam paparannya menjelaskan bahwa lisan ibarat pedang bermata dua yang jika tidak dikendalikan akan melukai pemiliknya sendiri. Dengan mengutip bab adab dalam Bidayatul Hidayah, ia merinci bahwa menjaga lisan dari ghibah (menggunjing) merupakan salah satu rukun keselamatan bagi seorang hamba. Menurutnya, memilih diam saat terpancing untuk membicarakan keburukan orang lain adalah bentuk jihad nafsu yang sangat mulia sekaligus menjaga kesucian amal ibadah yang telah dilakukan.
"Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah mengingatkan kita bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling dominan dalam menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Diam bukan berarti kalah, melainkan sebuah kekuatan untuk menjaga hati dan kehormatan sesama. Kami berharap jamaah di Rawaheng ini dapat mempraktekkan ilmu ini agar lingkungan kita tetap sejuk, rukun, dan terhindar dari penyakit hati yang merusak ukhuwah," ujar Joharulloh.
Pertemuan di Majelis Taklim Al-Barokah tersebut ditutup dengan diskusi interaktif mengenai cara-cara praktis menghindari percakapan yang tidak bermanfaat di kehidupan sehari-hari. Para jamaah tampak khidmat menyimak setiap nasihat, menyadari bahwa ketenangan hidup bermasyarakat bermula dari lisan yang terjaga. Melalui pembinaan rutin seperti ini, diharapkan nilai-nilai akhlakul karimah yang bersumber dari kitab-kitab muktabar dapat terus membumi dan menjadi pedoman perilaku warga Desa Rawaheng. (jhr)
