HUT RI #81

Menerima Kekurangan Pasangan Sebagai Bentuk Ibadah Seumur Hidup

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
20 Feb 2026
26x dibaca
SHARE

Banyumas — Di Balai Nikah yang tenang, ketika masa depan dua insan sedang dirajut dengan harap dan doa, kata-kata bijak mengalir perlahan, menyentuh relung terdalam hati. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada dua calon pengantin, Zidni Rohman dan Ike Yulianti, dengan satu pesan inti yang sederhana namun abadi: belajar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan sebagai bentuk ibadah seumur hidup. Jum’at (20/02)

Dalam suasana yang khidmat, Muhammad Taubah menyampaikan bahwa pernikahan bukanlah pertemuan dua insan yang sempurna, melainkan perjumpaan dua ketidaksempurnaan yang saling berjanji untuk bertumbuh bersama. “Tidak ada pasangan tanpa cela,” tuturnya lembut, “yang ada hanyalah dua hati yang bersedia saling memeluk kekurangan, dan mensyukuri kelebihan dengan penuh rendah hati.”

Bimbingan itu bukan sekadar nasihat pranikah, melainkan pelajaran kemanusiaan. Kata-kata yang disampaikan terasa pelan, namun menghunjam—mengajak siapa pun yang mendengarnya merenungi makna cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta bukan hanya tentang bahagia yang dirayakan, tetapi juga tentang luka yang diterima, kesabaran yang dipanjangkan, dan doa yang tak pernah putus saat keadaan tak berjalan sesuai harapan.

Kepada Zidni Rohman dan Ike Yulianti, Muhammad Taubah menegaskan bahwa rumah tangga adalah perjalanan panjang yang akan dipenuhi perbedaan pandangan, karakter, dan kebiasaan. Di sanalah, menerima menjadi lebih utama daripada menuntut. “Ketika engkau menerima pasanganmu apa adanya,” ujarnya, “di situlah Allah menitipkan ketenangan yang tak bisa dibeli oleh apa pun.”

Sejenak, ruang bimbingan itu terasa sunyi. Bukan karena ketiadaan suara, melainkan karena setiap kalimat menemukan tempatnya di hati. Air mata tak selalu jatuh, namun dada terasa penuh—oleh kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah, dan menerima adalah bentuk cinta tertinggi.

Kegiatan Bimbingan Perkawinan ini menjadi pengingat bagi semua kalangan, bahwa membangun rumah tangga bukan hanya urusan dua orang, tetapi peristiwa moral dan spiritual yang membutuhkan kesiapan batin. Dari Jatilawang, pesan itu menggema lembut: bahwa dalam menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, manusia belajar mencintai dengan cara yang paling manusiawi—dan paling diridai Tuhan.