Menggali Kedalaman Adabul Alim Wal Mutaallim: Kala Ilmu dan Harta Diadu dalam Diskusi Hangat

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Jatilawang – Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang kembali menghidupkan tradisi intelektual pesantren di lingkungan birokrasi. Pada medio pekan ini, para Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang berkumpul untuk melaksanakan kegiatan pendalaman Kitab Kuning. Fokus kajian kali ini membedah karya monumental Syekh Hasyim Asy’ari, Adabul Alim Wal Muta’allim, khususnya pada bab yang mengulas komparasi mendalam antara kemuliaan ilmu dan hakikat harta dalam kehidupan manusia. Kamis (23/04)

Kegiatan yang berlangsung di kantor KUA ini dipimpin langsung oleh Ketua Penyuluh Kecamatan Jatilawang, H. Asyhadi. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa pemahaman terhadap literatur klasik sangat krusial bagi para penyuluh agar memiliki landasan filosofis yang kuat saat terjun ke masyarakat. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat baris demi baris teks gundul tersebut dimaknai secara kontekstual, menghubungkan pesan teks abad ke-20 dengan tantangan zaman modern.

Sesi yang paling dinantikan adalah saat diskusi memasuki fase tanya jawab. Alih-alih berlangsung kaku, forum ini justru berubah menjadi ajang "adu argumen" yang sangat dinamis namun tetap penuh etika. Para penyuluh tampak antusias melontarkan pertanyaan tajam maupun memberikan masukan jawaban yang saling melengkapi. Dialektika ini menciptakan atmosfer belajar yang hidup, di mana setiap peserta merasa memiliki ruang untuk berkontribusi secara intelektual.

"Kegiatan ini sangat asyik karena kami tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berdialektika. Ada kalanya terjadi perbedaan sudut pandang dalam memaknai hubungan antara ilmu dan harta, namun di situlah letak kekayaannya. Kami saling melengkapi informasi agar pemahaman kami terhadap kitab ini menjadi utuh," ujar salah satu peserta di sela-sela diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa pengkajian kitab klasik bisa dikemas secara interaktif dan menyenangkan.

H. Asyhadi, pimpinan kegiatan, memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme para kolega sejawatnya. Beliau menilai bahwa kemampuan berargumen yang baik adalah cerminan dari penguasaan materi yang mumpuni. Menurutnya, pemahaman bahwa ilmu jauh lebih tinggi derajatnya daripada harta harus benar-benar terinternalisasi dalam diri seorang penyuluh agar mereka dapat menjadi teladan bagi umat di wilayah Jatilawang.

Acara yang berlangsung selama beberapa jam tersebut ditutup dengan doa bersama, menandai berakhirnya sesi yang berjalan dengan lancar dan penuh kekeluargaan. Melalui kegiatan rutin seperti ini, KUA Jatilawang berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, memastikan bahwa setiap penyuluh agama tidak hanya cakap dalam urusan administrasi, tetapi juga tajam secara spiritual dan intelektual melalui penguasaan kitab-kitab otoritatif.