Mengupas Makna Zuhud dan Aplikasinya dalam Kehidupan Seharri-hari

Oleh KUA Lumbir
SHARE

Banyumas - Suasana Masjid Al-Ghazali Canduk pada Jumat siang terasa begitu teduh dan penuh kekhusyukan. Para jamaah mulai memenuhi saf sejak sebelum azan berkumandang, menantikan pelaksanaan Shalat Jumat yang kali ini diisi oleh khotib dari KUA Lumbir, Moh. Tohirin Musyaffa, seorang staf yang dikenal aktif dalam kegiatan pembinaan masyarakat. Jum'at (12/12)

Dalam khutbahnya yang berjudul “Zuhud dan Aplikasinya dalam Kehidupan Sehari-hari”, Tohirin menyampaikan pesan yang mendalam mengenai makna sejati dari zuhud. Dengan penyampaian yang jelas dan runtut, ia menekankan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya atau menjauhi harta benda, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang proporsional tanpa mengikat hati secara berlebihan.

“Zuhud bukan soal hidup miskin, tetapi tentang bagaimana kita tidak diperbudak oleh urusan dunia. Dunia boleh dimiliki, namun jangan sampai dunia yang menguasai diri kita,” tegasnya di depan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa sikap zuhud dapat diwujudkan dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari, seperti hidup sederhana, tidak berlebihan dalam menikmati nikmat dunia, serta selalu mengutamakan ridha Allah dalam setiap langkah. Menurutnya, sikap ini sangat relevan dengan tantangan zaman modern, di mana manusia sering disibukkan oleh ambisi materi dan persaingan yang tidak sehat.

Tohirin menambahkan bahwa salah satu tanda zuhud adalah hati yang tenang ketika mendapatkan ujian maupun nikmat. “Orang yang zuhud tidak sombong ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji. Ia percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk menjaga hati dari sifat tamak, iri, dan rakus terhadap harta. Ia mengingatkan bahwa sikap berlebihan terhadap materi dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, menyebabkan rusaknya hubungan sosial, dan menumpulkan kepekaan terhadap sesama.

Sebagai penutup khutbah, Tohirin mengajak jamaah agar lebih membiasakan diri memperbanyak ibadah, menolong sesama, serta mensyukuri nikmat yang dimiliki tanpa melihat apa yang ada pada orang lain. Menurutnya, inilah bentuk zuhud praktis yang paling mudah diterapkan dalam kehidupan modern.

“Zuhud bukan sekadar konsep, tetapi gaya hidup. Jika diterapkan dengan benar, kehidupan menjadi lebih tenang, hati lebih lapang, dan hubungan dengan Allah semakin kuat,” tutupnya.

Para jamaah tampak antusias dan terinspirasi oleh pesan yang disampaikan. Beberapa di antaranya menyampaikan bahwa khutbah kali ini memberikan sudut pandang baru tentang makna zuhud yang selama ini sering disalahpahami.

Kehadiran Moh. Tohirin Musyaffa sebagai khotib memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Canduk. Selain membawa pesan yang menyejukkan, ia juga memperkuat peran KUA Kecamatan Lumbir dalam memberikan pembinaan spiritual yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Khutbah ini diharapkan menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.