Menikah Bukan Tentang Siapa yang Menang : KUA Jatilawang Ajak Catin Menurunkan Ego demi Cinta yang Abadi
Banyumas — Pernikahan bukanlah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling benar, bukan pula panggung untuk menunjukkan siapa yang paling berkuasa. Pernikahan adalah perjalanan dua hati yang belajar saling memahami, dua jiwa yang bersedia menerima kekurangan, dan dua manusia yang harus berulang kali menaklukkan ego demi mempertahankan cinta. Selasa (13/10)
Pesan penuh makna itulah yang disampaikan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, ketika memberikan nasihat dan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan pengantin, Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani. Dalam bimbingan tersebut, keduanya diajak memahami bahwa salah satu kunci penting membangun rumah tangga yang harmonis adalah kesediaan masing-masing untuk menurunkan ego, mengendalikan emosi, serta mendahulukan keutuhan keluarga daripada keinginan untuk selalu memenangkan pendapat sendiri.
Nasihat itu sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan yang kerap menjadi ujian dalam kehidupan berumah tangga. Sebab, tidak sedikit hubungan yang bermula dari cinta, tetapi kemudian menghadapi kesulitan ketika dua pribadi dengan karakter, kebiasaan, dan cara berpikir berbeda harus hidup bersama di bawah satu atap.
Ketika masih dalam masa pendekatan, perbedaan terkadang terasa menggemaskan. Namun, setelah menikah, perbedaan yang sama bisa berubah menjadi sumber pertengkaran apabila tidak disikapi dengan kedewasaan.
Di sinilah Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani diajak memahami bahwa cinta saja tidak cukup. Cinta perlu dirawat dengan kesabaran, diperkuat dengan komunikasi, dan dijaga dengan kerendahan hati.
Menurunkan Ego Bukan Berarti Kalah
Dalam bimbingannya, Iskandar Zulkarnain menekankan pentingnya memahami bahwa suami dan istri bukanlah dua orang yang harus saling mengalahkan, melainkan dua pasangan yang seharusnya saling menguatkan.
Ego sering kali muncul dalam bentuk yang tidak disadari. Seseorang ingin selalu didengar, tetapi lupa mendengarkan. Ingin dihargai, tetapi kesulitan menghargai. Ingin dimengerti, tetapi enggan memahami. Bahkan, dalam pertengkaran yang bermula dari persoalan kecil, masing-masing terkadang lebih sibuk mempertahankan kebenaran dirinya daripada mencari jalan keluar bersama.
Akibatnya, masalah sederhana dapat tumbuh menjadi luka yang panjang. Kata-kata yang seharusnya menjadi jembatan berubah menjadi senjata. Diam yang seharusnya menenangkan justru menjadi dinding pemisah. Sementara dua hati yang dahulu saling merindukan perlahan merasa semakin jauh, meskipun setiap hari tidur di bawah atap yang sama.
Karena itu, menurunkan ego bukanlah tanda kelemahan. Justru di situlah kedewasaan menemukan bentuknya. Mengalah bukan berarti kehilangan harga diri. Meminta maaf bukan berarti seluruh kesalahan berada di pihak sendiri. Dan mengakui bahwa pasangan memiliki pendapat yang berbeda bukan berarti cinta menjadi berkurang. Sebaliknya, kesediaan untuk merendahkan hati merupakan bukti bahwa seseorang menghargai hubungan yang sedang dibangunnya.
Dalam rumah tangga, kemenangan sejati bukanlah ketika suami berhasil membungkam istri, atau ketika istri mampu membuat suami menyerah. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika keduanya berhasil menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan martabat satu sama lain.
Iskandar Zulkarnain mengajak Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani membayangkan rumah tangga sebagai sebuah perahu yang harus diarungi berdua. Agar perahu tetap bergerak menuju tujuan, keduanya perlu bekerja sama, saling memperhatikan, dan bersedia menyesuaikan langkah ketika gelombang datang menerjang.
Jika masing-masing hanya ingin memegang kemudi menurut kehendaknya sendiri, perjalanan akan dipenuhi pertentangan. Namun, ketika keduanya bersedia berdialog dan mencari arah bersama, gelombang kehidupan dapat dihadapi dengan lebih bijaksana.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Suami dan istri tidak mungkin selalu memiliki pandangan yang sama. Akan ada perbedaan mengenai keuangan, pekerjaan, pembagian tugas rumah tangga, hubungan dengan keluarga besar, hingga cara mendidik anak kelak.
Perbedaan itu wajar. Yang perlu dijaga adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan.
Jangan sampai persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui percakapan sederhana justru berkembang menjadi pertengkaran karena masing-masing merasa paling benar. Jangan pula membiarkan kemarahan sesaat melahirkan kalimat yang terus teringat, bahkan setelah masalahnya selesai.
Sebab, luka akibat kata-kata terkadang tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat menetap lama di dalam hati.
Pasangan yang dewasa bukan pasangan yang tidak pernah bertengkar. Mereka adalah pasangan yang belajar bertengkar secara sehat, tidak menghina, tidak mengancam, tidak mempermalukan, dan tidak menggunakan kelemahan pasangannya sebagai alat untuk menyakiti.
Jika emosi sedang memuncak, mengambil jeda untuk menenangkan diri dapat menjadi pilihan yang bijaksana. Setelah suasana lebih tenang, persoalan dapat dibicarakan kembali dengan pikiran jernih dan niat mencari penyelesaian, bukan mencari siapa yang harus dipersalahkan.
Dalam perspektif Islam, tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, tetapi membangun keluarga yang diliputi ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menciptakan pasangan bagi manusia agar mereka memperoleh ketenteraman, serta menjadikan di antara mereka rasa kasih dan sayang.
Nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah tersebut tidak hadir dengan sendirinya. Ketiganya perlu diusahakan melalui tindakan sehari-hari: mendengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh, menghargai perbedaan, membagi tanggung jawab secara adil, menjaga kepercayaan, dan tidak membiarkan amarah menguasai akal sehat.
Rumah tangga yang tenteram bukan berarti rumah tanpa persoalan. Rumah tangga yang tenteram adalah rumah yang penghuninya berusaha menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang.
Bagi Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani, nasihat ini menjadi bekal untuk menapaki kehidupan baru. Keduanya perlu menyadari bahwa setelah pernikahan, cinta tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata manis. Cinta harus dibuktikan ketika pasangan sedang lelah, ketika pendapat tidak sejalan, ketika keadaan ekonomi menuntut penghematan, dan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Pada saat-saat itulah, kualitas cinta diuji. Bukan ketika semuanya mudah, melainkan ketika keduanya tetap memilih untuk saling menghargai meskipun sedang menghadapi kesulitan.
Ada kalanya dalam sebuah rumah tangga, seseorang baru menyadari arti pasangannya setelah pertengkaran meninggalkan jarak. Ada pula yang baru memahami betapa berharganya sebuah pelukan setelah terlalu lama membiarkan kesunyian memenuhi rumah.
Padahal, tidak semua persoalan membutuhkan kemenangan. Ada masalah yang cukup diselesaikan dengan percakapan jujur. Ada kesalahpahaman yang dapat diurai dengan kesediaan mendengarkan. Dan ada pertengkaran yang bisa berakhir lebih cepat ketika salah satu berani berkata, “Maaf, mari kita bicarakan baik-baik.”
Permintaan maaf tidak menghapus harga diri. Justru, ia menunjukkan keberanian untuk mengakui bahwa hubungan lebih berharga daripada keangkuhan pribadi.
Demikian pula memaafkan bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Memaafkan adalah membuka ruang untuk memperbaiki hubungan, sementara persoalan yang mendasar tetap perlu diselesaikan secara bertanggung jawab.
Iskandar Zulkarnain mengingatkan bahwa suami dan istri hendaknya tidak membiasakan diri mengumpulkan kesalahan pasangan untuk dijadikan senjata dalam pertengkaran berikutnya. Sebaliknya, keduanya perlu membangun kebiasaan saling mengingatkan dengan santun, menyampaikan keberatan tanpa merendahkan, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama.
Sebab, rumah bukan tempat untuk menentukan siapa yang paling hebat. Rumah adalah tempat dua manusia belajar menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, perjalanan Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani bukanlah perjalanan untuk mencari pasangan yang selalu sempurna. Keduanya sedang memulai perjalanan untuk belajar mencintai manusia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Akan ada hari ketika tawa memenuhi rumah. Akan ada pula masa ketika air mata tidak dapat ditahan. Ada saat ketika segala sesuatu terasa mudah, tetapi mungkin juga ada hari ketika keduanya harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan ketenteraman.
Dalam setiap keadaan itu, semoga keduanya selalu mengingat nasihat untuk menurunkan ego, menjaga lisan, dan mendahulukan musyawarah.
Sebab, kelak yang membuat sebuah pernikahan bertahan bukanlah keberhasilan suami memenangkan setiap perdebatan, atau kemampuan istri membuktikan bahwa dirinya selalu benar. Yang membuatnya bertahan adalah kesediaan keduanya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga cinta agar tidak kalah oleh keangkuhan.
Pesan untuk Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani: jangan biarkan ego tumbuh lebih tinggi daripada rasa cinta. Jangan biarkan amarah berbicara lebih keras daripada hati nurani. Dan jangan menunggu kehilangan kehangatan rumah untuk menyadari betapa berharganya seseorang yang setiap hari berada di sisi kita.
Karena dalam pernikahan, terkadang yang paling dibutuhkan bukanlah seseorang yang selalu berkata, “Aku benar,” melainkan seseorang yang dengan tulus mampu berkata, “Mari kita cari jalan terbaik bersama.”
Semoga Allah SWT membimbing Beni Regina dan Kanthi Rahma Oktaviani dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah; menjadikan keduanya pasangan yang saling menguatkan, saling memaafkan, serta saling menjaga hingga usia menua.
Semoga rumah mereka kelak bukan hanya menjadi tempat untuk berteduh dari hujan dan panas kehidupan, tetapi juga tempat hati selalu menemukan kedamaian untuk pulang.
Sebab, cinta yang dewasa bukanlah tentang dua orang yang tidak pernah meninggikan suara, melainkan tentang dua hati yang belajar merendahkan ego agar kasih sayang tetap memiliki tempat untuk tumbuh.
