HUT RI #81

Menyapa Tokoh, Menyerap Hikmah

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
14 Okt 2026
18x dibaca
Diubah oleh yudi pada 15-10-2026 07:05
SHARE

Jatilawang — Ada banyak pelajaran kehidupan yang tidak tertulis di dalam buku, tetapi tersimpan dalam ingatan orang-orang tua. Ada nasihat yang lahir dari perjalanan panjang, ada kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman, dan ada kepedulian yang diwariskan melalui cerita-cerita sederhana tentang kehidupan masyarakat. (Rabu, 14/10)

Semangat untuk mendengarkan dan belajar dari kearifan itulah yang mengantarkan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, bertemu dengan Kyai Samsudin, sesepuh Desa Margasana. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk berbincang mengenai kehidupan sosial keagamaan masyarakat desa, termasuk pentingnya menjaga kerukunan, merawat tradisi kebaikan, dan memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam suasana akrab dan penuh penghormatan, percakapan berlangsung sebagai ruang berbagi pandangan tentang kehidupan masyarakat. Bagi seorang penyuluh agama, perjumpaan dengan sesepuh desa bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan kesempatan untuk memahami masyarakat dari sudut pandang mereka yang telah lama menyaksikan perjalanan kehidupan di lingkungannya.

Sebab, masyarakat bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal berdekatan. Di dalamnya terdapat keluarga dengan beragam persoalan, generasi muda yang sedang mencari arah, orang tua yang mendambakan ketenteraman, serta warga yang membutuhkan perhatian dan penguatan ketika menghadapi kesulitan.

Di tengah dinamika tersebut, kehidupan sosial dan keagamaan memiliki hubungan yang erat. Keimanan semestinya tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi juga tumbuh menjadi kepedulian terhadap sesama. Ibadah tidak hanya mendekatkan manusia kepada Allah SWT, melainkan juga mengajarkan manusia untuk memperlakukan orang lain dengan kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan.

Muhammad Taubah memahami bahwa penyuluhan agama akan lebih bermakna apabila berangkat dari kenyataan yang dihadapi masyarakat. Karena itu, mendengarkan cerita warga, berdialog dengan tokoh setempat, dan menghargai pengalaman para sesepuh merupakan bagian penting dalam membangun pendekatan penyuluhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, sosok Kyai Samsudin sebagai sesepuh Desa Margasana menjadi bagian penting dari khazanah kearifan masyarakat. Pengalaman dan pandangan para sesepuh dapat menjadi sumber pembelajaran dalam memahami perubahan sosial, menjaga nilai-nilai luhur, serta meneruskan pesan-pesan kebaikan kepada generasi berikutnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan aturan dan nasihat semata. Ada kalanya, seseorang membutuhkan teman bicara yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Ada keluarga yang membutuhkan penguatan agar mampu bertahan menghadapi kesulitan. Ada pula perbedaan pendapat yang memerlukan kebijaksanaan agar tidak berubah menjadi permusuhan.

Pertemuan Muhammad Taubah dengan Kyai Samsudin juga mengingatkan bahwa menjaga kehidupan sosial keagamaan bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Penyuluh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, keluarga, dan seluruh warga memiliki peran untuk membangun lingkungan yang damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Harapannya, silaturahmi dan pertukaran pandangan seperti ini dapat terus memperkuat pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat Desa Margasana, sekaligus menjadi bekal dalam menghadirkan penyuluhan agama yang lebih membumi dan bermanfaat.(tum)