Menyikapi Masalah dengan Penuh Kesabaran dan Kasih Sayang

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di bawah langit sore yang teduh di RW 3 Desa Adisara, langkah-langkah para ibu anggota PKK beriringan menuju balai pertemuan sederhana yang hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Di ruang yang tak luas namun hangat itu, sebuah perbincangan tentang kehidupan dimulai—tentang rumah tangga, tentang cinta yang diuji waktu, dan tentang harapan membangun keluarga yang sakinah. Senin (27/04)

Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dengan balutan kesederhanaan dan keteduhan sikap, ia berdiri di hadapan para peserta, menyampaikan materi tentang keluarga sakinah—sebuah konsep yang sering didengar, namun tak selalu mudah dijalani.

Dengan tutur kata yang lembut namun mengena, Dwi Astuti membuka penyampaiannya dengan mengajak para ibu untuk kembali mengingat tujuan awal pernikahan: bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi membangun rumah yang menjadi tempat pulang paling damai. “Keluarga sakinah bukan berarti tanpa masalah, tetapi bagaimana kita menyikapi masalah dengan penuh kesabaran dan kasih sayang,” tuturnya, mengalir perlahan namun dalam.

Para peserta tampak larut dalam setiap kalimat yang disampaikan. Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang terdiam, seolah menemukan cermin dari perjalanan hidup mereka sendiri. Di antara mereka, tersimpan kisah-kisah yang tak selalu mudah—tentang perjuangan, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus.

Dwi Astuti menekankan pentingnya komunikasi yang hangat, saling menghargai, dan menjaga kepercayaan dalam rumah tangga. Ia juga mengingatkan bahwa peran seorang ibu bukan hanya sebagai pengurus rumah, tetapi juga sebagai penenang, penguat, dan pendidik utama bagi generasi penerus.

“Ketika rumah menjadi tempat yang nyaman, maka dunia di luar tidak lagi terasa menakutkan,” ujarnya, membuat suasana sejenak hening, dipenuhi rasa haru yang sulit diungkapkan.

Tak hanya teori, Dwi Astuti juga menyisipkan kisah-kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisah tentang kesabaran menghadapi perbedaan, tentang memaafkan tanpa syarat, dan tentang mencintai tanpa harus selalu dimengerti. Dari kisah-kisah itu, para peserta menemukan kekuatan—bahwa mereka tidak sendiri dalam perjuangan menjaga keutuhan keluarga.

Seiring waktu yang berjalan, suasana yang semula terasa formal berubah menjadi hangat dan penuh keakraban. Tawa kecil sesekali pecah, namun tak jarang pula mata berkaca-kaca, tersentuh oleh makna yang disampaikan.

Kegiatan PKK hari itu bukan sekadar pertemuan rutin. Ia menjadi ruang refleksi, tempat hati-hati yang lelah menemukan kembali semangatnya. Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, pesan tentang keluarga sakinah hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh—ia bisa tumbuh dari kesederhanaan, dari ketulusan, dan dari kesabaran yang dijaga setiap hari.

Di Desa Adisara, sore itu, sebuah pelajaran penting kembali ditanamkan. Bahwa keluarga sakinah bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang harus dirawat bersama. Dan melalui suara lembut Dwi Astuti, harapan itu kembali dinyalakan—pelan, namun pasti, menyinari hati setiap orang yang hadir.