HUT RI #81

Pengajaran Shalat Tarawih dan Witir Diambang Datangnya Ramadhan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
09 Feb 2026
15x dibaca
SHARE

Banyumas — Suara anak-anak mengalun lirih dari serambi TPQ Nurul Huda saat cahaya ilmu sedang dititipkan dengan penuh kesabaran. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang di hadapan para santri kecil, mengajarkan satu hal yang kelak akan menjadi bekal seumur hidup: shalat Tarawih dan shalat Witir. Senin (09/02)

Kegiatan pembinaan tersebut dilaksanakan pada pekan menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, sebagai bentuk persiapan spiritual bagi para santri TPQ Nurul Huda. Dengan suara lembut namun tegas, Muhammad Taubah menjelaskan hikmah shalat malam Ramadhan—tentang keheningan yang mempertemukan hamba dengan Tuhannya, tentang Witir sebagai penutup doa, dan tentang Tarawih yang mengajarkan ketekunan dalam ibadah.

“Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga,” tuturnya di hadapan para santri, “tetapi tentang melatih hati agar selalu kembali kepada Allah.”

Para santri mendengarkan dengan mata berbinar. Ada yang masih terbata-bata melafalkan niat, ada pula yang keliru dalam gerakan. Namun tak ada bentakan, tak ada cela. Setiap kesalahan disambut senyum dan dibenahi dengan kasih. Di situlah letak keagungan seorang pendidik—mendidik dengan hati sebelum dengan kata.

Muhammad Taubah menyampaikan bahwa pendidikan ibadah sejak usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi Muslim. Menurutnya, Tarawih dan Witir bukan sekadar ritual musiman, melainkan sarana membangun kedisiplinan, keikhlasan, dan kecintaan kepada masjid.

“Kami ingin anak-anak mencintai Ramadhan, bukan merasa terbebani olehnya,” ujarnya dengan mata yang teduh.

Ketika kegiatan usai dan para santri berpamitan, langkah mereka ringan, seolah membawa pulang cahaya. Dan di balik pintu TPQ yang perlahan tertutup, Muhammad Taubah tetap duduk sejenak—memandang sajadah, menatap masa depan umat dengan doa yang tak terdengar.

Di sanalah Ramadhan sesungguhnya sedang disiapkan. Bukan dengan gemerlap, melainkan dengan air mata keikhlasan dan sunyi pengabdian.