Penguatan Kompetensi Guru MI Lewat Pelatihan Kurikulum Cinta di Banyumas
Oleh HUMAS
Purwokerto — Sebanyak 171 guru, kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan pengawas madrasah dari Kecamatan Kembaran dan Sumbang mengikuti kegiatan Pelatihan Kurikulum Cinta, yang diselenggarakan oleh KKM MI dibawah naungan Seksi Pendidikan Madrasah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, bertempat di D’Garden Resto, Purwokerto. Kamis (09/10)
Kegiatan ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaduddin. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya peran guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran dengan tetap fokus pada tugas dan fungsi utama (tusi), tanpa terdistraksi oleh program lain seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang bukan menjadi tanggung jawab langsung pendidik.
"Peningkatan mutu pembelajaran adalah tanggung jawab utama kita. Guru harus fokus pada Kurikulum Cinta dan pengembangan kompetensi peserta didik," ujar Ibnu Asaduddin.
Beliau menambahkan, "Jangan sampai kita terdistraksi oleh isu atau program di luar tusi kita, seperti program MBG. Guru harus tetap menjadi mercusuar bagi ilmu dan karakter siswa, sementara urusan logistik dan program sosial lainnya biarlah menjadi ranah pihak terkait."
Pelatihan ini membahas sejumlah materi penting terkait implementasi kurikulum dan penyusunan perangkat ajar, antara lain Pemanfaatan Kartu Banyumas Pintar (KBP) dalam mendukung akses pendidikan, Pengenalan dan implementasi Kurikulum Cinta, Konsep Deep Learning dalam pembelajaran, Penguatan kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler, Analisis Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), serta Penyusunan Model Ajar yang relevan dan sesuai kebutuhan peserta didik.
Salah satu poin yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa tidak ada perbedaan antara siswa MI dan SD dalam hal hak atas pendidikan. Dengan adanya Kartu Banyumas Pintar, seluruh siswa – tanpa melihat satuan pendidikannya – mendapatkan akses yang sama terhadap layanan pendidikan.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru MI dapat memperkuat pemahaman kurikulum secara menyeluruh dan menyusun model ajar yang sesuai dengan konteks lokal, kebutuhan siswa, dan kebijakan madrasah.
