Penyatuan Dua Jiwa Untuk Melewati Berbagai Musim Kehidupan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Pagi yang teduh menyelimuti Desa Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang. Semilir angin yang berhembus lembut seakan turut mengantarkan doa-doa yang terucap dari sanak keluarga dan para tamu yang hadir. Di tengah suasana penuh haru dan kebahagiaan itu, sebuah peristiwa sakral kembali menjadi penanda lahirnya sebuah keluarga baru dalam bingkai syariat dan ketentuan negara. Senin (08/06)
Penghulu KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, melaksanakan pencatatan nikah sekaligus memimpin prosesi ijab qabul pasangan pengantin Aditya dan Lela di Desa Kedungwringin. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat, tertib, dan penuh nuansa religius yang menyentuh hati setiap orang yang menyaksikannya.
Sejak pagi hari, keluarga kedua mempelai telah berkumpul dengan wajah yang memancarkan harapan dan kebahagiaan. Di balik senyum yang mengembang, tersimpan perjalanan panjang yang telah ditempuh kedua insan hingga akhirnya dipertemukan dalam satu ikatan yang sah dan mulia.
Prosesi ijab qabul berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ketika kalimat akad nikah diucapkan dan dijawab dengan mantap oleh mempelai pria, suasana mendadak hening. Seakan waktu berhenti sesaat untuk memberi ruang kepada dua hati yang tengah mengikat janji di hadapan Allah SWT.
Suara saksi yang menyatakan akad telah sah menjadi penanda bahwa dua perjalanan hidup kini telah menyatu. Tidak sedikit mata yang berkaca-kaca. Ada rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena pada momen itu bukan hanya dua insan yang dipersatukan, melainkan juga dua keluarga yang dipertemukan dalam ikatan persaudaraan.
Dalam kesempatan tersebut, Iskandar Zulkarnain menyampaikan nasihat pernikahan kepada kedua mempelai. Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan nama dalam dokumen resmi, melainkan penyatuan dua jiwa yang akan berjalan bersama melewati berbagai musim kehidupan.
"Pernikahan adalah perjalanan panjang yang dibangun dengan kesabaran, keikhlasan, saling menghormati, dan kasih sayang. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah tentang siapa yang paling sempurna, tetapi tentang dua insan yang terus belajar menerima dan menyempurnakan satu sama lain," pesannya.
Pencatatan nikah yang dilakukan oleh KUA menjadi bagian penting dalam memberikan perlindungan hukum bagi pasangan suami istri sekaligus memastikan bahwa peristiwa sakral tersebut tercatat secara resmi oleh negara. Di balik lembaran dokumen yang ditandatangani, tersimpan harapan besar agar keluarga yang dibangun dapat tumbuh menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Bagi masyarakat yang hadir, prosesi akad nikah Aditya dan Lela bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat bahwa cinta sejati tidak hanya diucapkan dalam kata-kata, tetapi dibuktikan melalui keberanian untuk memikul tanggung jawab dan kesediaan untuk berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Langit Kedungwringin pagi itu menjadi saksi ketika dua hati mengucapkan janji yang akan dikenang sepanjang hayat. Di antara doa-doa yang melangit, terselip harapan agar rumah tangga yang baru dibangun senantiasa dipenuhi keberkahan, ketenteraman, dan cinta yang tumbuh semakin indah seiring berjalannya waktu.
Karena sesungguhnya, akad nikah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan cinta. Ia adalah awal dari kisah panjang tentang pengorbanan, kesetiaan, dan perjuangan dua insan yang memilih untuk saling menggenggam tangan hingga akhir hayat. Dan pada hari yang penuh berkah itu, Aditya dan Lela telah memulai babak baru kehidupan mereka, diiringi doa-doa tulus dari keluarga, masyarakat, dan langit yang menaungi Desa Kedungwringin.
