Pentingnya Keikhlasan dalam Menerima Kekurangan Pasangan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Di tengah persiapan menuju hari bahagia, ada satu bekal yang sering kali lebih penting daripada kemegahan pesta dan indahnya pelaminan, yakni kesiapan hati untuk menerima pasangan apa adanya. Sebab pernikahan yang kokoh tidak dibangun oleh dua manusia yang sempurna, melainkan oleh dua insan yang bersedia saling menerima ketidaksempurnaan dengan penuh cinta dan keikhlasan. Senin (08/06)
Pemahaman itulah yang disampaikan oleh Penyuluh Agama KUA Jatilawang, Muhammad Taubah, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Tri Wahyu Ardianto dan Wahyu Nurhayati. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, keduanya mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya keikhlasan dalam menerima kekurangan pasangan sebagai fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan KUA Jatilawang tersebut berlangsung dengan suasana yang akrab namun sarat makna. Tidak hanya berisi materi dan teori, bimbingan tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi calon pengantin untuk memahami hakikat pernikahan yang sesungguhnya.
Dalam pemaparannya, Muhammad Taubah menjelaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, memasuki kehidupan rumah tangga berarti siap menerima pasangan secara utuh, bukan hanya pada sisi-sisi yang menyenangkan, tetapi juga pada bagian-bagian yang mungkin tidak sesuai dengan harapan.
"Ketika seseorang menikah, sesungguhnya ia tidak sedang memilih kesempurnaan. Ia sedang memilih seseorang yang akan diajak bertumbuh bersama. Kebahagiaan rumah tangga lahir ketika suami dan istri mampu menerima kekurangan masing-masing dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan," tuturnya.
Penyampaian materi tersebut tampak menyentuh hati kedua calon pengantin. Mereka diajak memahami bahwa dalam perjalanan rumah tangga kelak akan ada perbedaan karakter, kebiasaan, dan cara pandang yang membutuhkan kesabaran serta pengertian. Namun justru di situlah letak keindahan sebuah pernikahan, ketika dua insan saling melengkapi dan saling menguatkan.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa banyak persoalan rumah tangga bermula dari harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, kekecewaan mudah muncul. Karena itu, keikhlasan menjadi kunci penting untuk menjaga keharmonisan keluarga.
"Jangan menikah karena berharap menemukan pasangan tanpa kekurangan. Menikahlah dengan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kelemahan. Cinta yang dewasa adalah cinta yang mampu menerima, memaafkan, dan terus membersamai," pesannya dengan penuh keteduhan.
Suasana bimbingan semakin terasa menyentuh ketika pembahasan mengarah pada peran suami dan istri dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Bahwa rumah tangga bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan, tetapi juga tentang saling menggenggam tangan ketika kesulitan datang menghampiri.
Bagi Tri Wahyu Ardianto dan Wahyu Nurhayati, bimbingan tersebut menjadi bekal berharga menjelang hari pernikahan. Tidak hanya mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan suami istri secara administratif dan seremonial, tetapi juga mempersiapkan hati untuk menjalani kehidupan bersama dengan penuh kesabaran dan pengertian.
Di tengah dunia yang sering menampilkan gambaran sempurna tentang cinta, Bimbingan Perkawinan di KUA Jatilawang mengajarkan sebuah kebenaran yang sederhana namun mendalam: bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan seseorang yang tanpa cela, melainkan tentang memilih untuk tetap bertahan, memahami, dan mencintai meski mengetahui segala kekurangannya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Jatilawang dalam mempersiapkan calon pengantin agar tidak hanya siap melangsungkan akad nikah, tetapi juga siap menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Sebuah kehidupan yang membutuhkan lebih dari sekadar cinta, yakni keikhlasan, kesabaran, dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama.
Pada akhirnya, keikhlasan menerima kekurangan pasangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan cinta yang paling indah. Dan melalui bimbingan yang penuh makna tersebut, Tri Wahyu Ardianto dan Wahyu Nurhayati diajak untuk memahami bahwa rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga tanpa kekurangan, melainkan rumah tangga yang dihuni oleh dua hati yang saling menerima dan saling menguatkan karena Allah SWT.
