Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja Sambut dan Berikan Bimbingan Konseling kepada Wali Santri Alumni Asal Lampung
Sokaraja, 7 Oktober 2026 — Kehadiran keluarga santri di lingkungan pesantren menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi dalam mendampingi perjalanan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Hal tersebut tercermin ketika Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mahabbatul Qur'an Desa Karangduren, Akhmad Arifudin, S.Sos.I., M.Pd.I., menyambut kedatangan Sunatra, wali santri alumni asal Provinsi Lampung, di Pondok Pesantren Mahabbatul Qur'an, Desa Karangduren, Sokaraja, pada Rabu (7/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Akhmad Arifudin memberikan bimbingan konseling, penguatan keagamaan, serta motivasi kepada wali santri. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, membangun komunikasi yang positif, sekaligus memberikan penguatan agar hubungan antara keluarga, alumni, dan pesantren tetap terjalin dengan baik.
Menurut Akhmad Arifudin, silaturahmi tidak hanya menjadi sarana mempererat hubungan antarmanusia, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
«“Setiap orang tua tentu memiliki harapan besar terhadap masa depan anaknya. Karena itu, pendidikan tidak berhenti ketika santri menyelesaikan masa belajarnya di pesantren. Nilai-nilai agama, akhlak, dan kebiasaan baik harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.”»
Pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2:
«“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”»
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa membangun generasi yang baik membutuhkan kebersamaan. Orang tua, pesantren, penyuluh agama, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memberikan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang berilmu dan berakhlak.
Konseling sebagai Ruang untuk Menguatkan
Bimbingan konseling keagamaan yang diberikan tidak semata-mata membahas persoalan yang dihadapi, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan motivasi. Setiap keluarga memiliki perjalanan dan tantangan masing-masing. Karena itu, komunikasi yang terbuka dan pendekatan yang penuh empati menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan.
Akhmad Arifudin menekankan pentingnya menjaga semangat dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
«“Jangan melihat tantangan sebagai akhir dari perjalanan. Jadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan semakin mendekat kepada Allah. Selama kita terus berikhtiar, berdoa, dan menjaga silaturahmi, selalu ada jalan kebaikan yang dapat ditempuh.”»
Allah SWT juga memberikan motivasi yang sangat kuat dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6:
«“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”»
Pesan tersebut menjadi penguat bagi keluarga dan alumni pesantren agar senantiasa optimistis menghadapi masa depan. Pendidikan yang telah ditempuh di pesantren diharapkan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dengan nilai-nilai Islam.
Silaturahmi yang Melampaui Jarak
Kedatangan wali santri alumni dari Provinsi Lampung menunjukkan bahwa hubungan antara pesantren dan keluarga santri dapat tetap terjaga meskipun dipisahkan jarak.
Silaturahmi tersebut menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang dapat terus terpelihara setelah santri menyelesaikan pendidikan.
Melalui kegiatan penyambutan, bimbingan konseling, dan motivasi ini, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja sekaligus Pengasuh Ponpes Mahabbatul Qur'an terus berupaya menghadirkan pendampingan keagamaan yang menyentuh aspek spiritual, keluarga, dan kehidupan sosial masyarakat.
Pada akhirnya, pesan utama dari pertemuan tersebut adalah bahwa pendidikan yang baik akan semakin bermakna ketika ilmu diteruskan dengan keteladanan, silaturahmi dijaga
