Penyuluh Agama Susun Buku Modul BRUS Versi Remaja: Belajar Nilai Agama Jadi Lebih Seru dan Relevan
Oleh HUMAS
Banyumas – Inovasi terus dilakukan para penyuluh agama Islam dalam membimbing generasi muda. Sebuah langkah kreatif tengah dilakukan dengan penyusunan buku modul BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) versi siswa. Buku BRUS yang bertema "Menjadi Remaja Sehat dan Terampil Mengelola Diri" ini dirancang dengan bahasa gaul dan ringan, agar materi keagamaan dapat dipahami dan dinikmati oleh para remaja secara lebih santai dan menyenangkan.
Tim penyusun terdiri dari Faidus Sa'ad, Lubab Habiburrohman, Tini Hayaturrohmah, dan Amin Supangat. Mereka bekerja sama untuk menerjemahkan modul fasilitator BRUS—yang selama ini ditujukan bagi para pendidik dan penyuluh—ke dalam bentuk buku pendamping yang komunikatif bagi siswa.
“Selama ini modul fasilitator bahasanya formal dan teknis, sehingga kurang cocok jika langsung dibaca oleh siswa. Melalui buku ini, kami ubah penyajiannya menjadi lebih ringan, banyak contoh kehidupan sehari-hari, dan gaya bahasanya dekat dengan dunia remaja. Intinya, kami ingin mereka merasa diajak ngobrol, bukan diceramahi. Setelah mengikuti BRUS yang dibekali modul, kami berharap bisa menularkan ke teman-teman lain sehingga bisa menjadi tutor sebaya” ujar Faidus Sa’ad selaku koordinator penyusunan.
Buku modul BRUS versi remaja ini nantinya akan digunakan dalam kegiatan pembinaan di sekolah-sekolah, pesantren, dan komunitas remaja. Isinya tidak hanya menyampaikan nilai-nilai agama, tetapi juga mengajak remaja berpikir kritis, memperkuat karakter, dan merencanakan masa depan termasuk merencanakan usia perkawinan nanti sehingga bisa membina keluarga sakinah, tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani.
Salah satu siswa yang ikut uji coba modul, Nabila (16), mengaku senang dengan pendekatan baru ini. “Biasanya kalau materi agama tuh bahasanya berat dan bikin ngantuk. Tapi buku BRUS ini beda, kayak lagi baca konten anak muda aja. Banyak contoh yang relate sama kehidupan kita, jadi lebih gampang nyangkut di pikiran,” tuturnya.
Sementara itu, Arif (17), siswa SMA lain yang juga mengikuti kegiatan, menambahkan “Keren banget, bahasanya asik, tapi isinya tetap ngena. Jadi kita bisa belajar agama tanpa merasa digurui. Teman-teman juga jadi lebih semangat ikut bimbingan.”
Penyusunan buku modul ini merupakan bentuk komitmen penyuluh agama untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memastikan pesan-pesan kebaikan sampai ke generasi muda dengan cara yang mereka pahami dan sukai.
Dengan mengikuti BRUS dan mendapatkan modul ini, diharapkan para peserta tidak hanya memahami nilai agama dengan cara yang menyenangkan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi tutor sebaya yang mampu menularkan kebaikan kepada teman-temannya.
