HUT RI #81

Penyuluh Bekali Santri TPQ Nurul Huda Cara Jaga Pahala Puasa

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
27 Feb 2026
34x dibaca
SHARE

Banyumas — Di tengah suasana Ramadhan yang syahdu, lantunan ayat suci dan wajah-wajah polos santri TPQ Nurul Huda menjadi saksi hadirnya sebuah pesan yang bukan sekadar pengajaran, melainkan sentuhan nurani. Pada kesempatan itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang, menyampaikan materi tentang hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa Ramadhan kepada para santri di TPQ Nurul Huda. Jum’at (27/02)

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus,” tutur Muhammad Taubah dengan suara tenang namun penuh penekanan. “Ia adalah ibadah hati. Ketika lisan berdusta, ketika mata memandang yang dilarang, ketika hati dipenuhi amarah dan dengki, di situlah pahala puasa mulai berkurang, meski kita masih menahan makan dan minum.” lanjutnya.

Para santri menyimak dengan khidmat. Beberapa di antara mereka tertunduk, seakan merenungi diri sendiri. Materi yang disampaikan tidak berhenti pada definisi, tetapi mengajak anak-anak memahami bahwa puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan akhlak mulia sejak usia dini.

Muhammad Taubah mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan haus semata. Pesan itu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, namun sarat makna, seakan menjadi pengingat pula bagi para orang dewasa yang hadir menyaksikan.

“Jika puasa tidak membuat kita lebih sabar, lebih jujur, dan lebih lembut kepada sesama, maka ada yang perlu kita perbaiki,” ujarnya, disambut keheningan yang penuh perenungan.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sekolah jiwa. Di ruang sederhana TPQ itu, pelajaran besar ditanamkan: bahwa menjaga pahala puasa jauh lebih berat daripada sekadar menahan lapar, dan bahwa akhlak adalah cermin keberhasilan ibadah.

Saat kegiatan berakhir, beberapa santri tampak masih terdiam. Mungkin mereka sedang belajar memahami makna puasa yang sesungguhnya—puasa yang tidak hanya tercatat di langit, tetapi juga membekas di dalam hati.