Perdalam Pemahaman Agama, Jamaah MT Nurul Huda Antusias Ikuti Kajian Rutin Kitab Fathul Qarib
Jatilawang — Upaya meningkatkan pemahaman literasi keagamaan dan kualitas ibadah masyarakat terus digalakkan di wilayah Kecamatan Jatilawang. Melalui peran aktif Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, kegiatan bimbingan dakwah dan penyuluhan keagamaan berbasis kitab kuning secara konsisten hadir di tengah-tengah pemukiman warga desa. Kamis (15/10)
Salah satu fokus pembinaan tersebut diwujudkan melalui agenda kajian rutin kitab fikih yang diperuntukkan bagi jamaah Majelis Taklim (MT) Nurul Huda, Desa Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus sarana penimbaan ilmu syariat yang sangat dinantikan oleh warga setempat.
Penyuluhan keagamaan ini diampu langsung oleh Rais Rudiansyah, seorang Penyuluh Agama Islam dari KUA Jatilawang. Dengan dedikasi penuh, beliau hadir mendampingi masyarakat untuk membedah berbagai persoalan hukum Islam yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan keagamaan yang sarat nilai edukasi ini diselenggarakan secara berkala setiap pekan, tepatnya pada malam Rabu. Pemilihan waktu pelaksanaannya mengambil momen seusai shalat Maghrib berjamaah (bakda Maghrib) hingga menjelang masuknya waktu shalat Isya.
Adapun literatur utama yang menjadi bahan pembacaan dan pembahasan dalam majelis ini adalah Kitab Fathul Qarib Al-Mujib. Kitab fikih klasik karangan Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi ini dipelajari secara bertahap agar jamaah mampu memahami tata cara ibadah yang sah dan benar sesuai tuntunan syariat.
Penggunaan Kitab Fathul Qarib dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat umum. Pembahasannya yang sistematis dan ringkas memudahkan jamaah dari berbagai kalangan usia untuk menyerap kaidah-kaidah hukum Islam mulai dari thaharah (bersuci), shalat, hingga persoalan muamalah.
Suasana kajian berlangsung hangat dan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak menyimak setiap bait penjelasan yang disampaikan oleh sang penyuluh dengan penuh perhatian, mencatat poin-poin penting yang disajikan.
Tak sekadar mendengarkan ceramah satu arah, antusiasme jamaah semakin terlihat saat memasuki sesi tanya jawab. Banyak di antara warga yang secara aktif mengajukan pertanyaan seputar permasalahan fikih praktis dan kendala ibadah yang mereka hadapi dalam keseharian.
Rais Rudiansyah merespons setiap pertanyaan warga dengan lugas, bijak, dan mudah dipahami. Interaksi yang dinamis antara penyuluh dan jamaah ini menjadikan majelis taklim hidup serta kaya akan pemikiran konstruktif.
Secara keseluruhan, rangkaian acara kajian fikih berjalan dengan tertib, aman, dan lancar hingga akhir sesinya. Rangkaian kegiatan spiritual pada malam Rabu tersebut kemudian ditutup secara khidmat dengan pelaksanaan ibadah shalat Isya secara berjamaah.
