HUT RI #81

Penyuluh Berikan Pendampingan Spiritual untuk Trauma Anak

Oleh KUA Wangon
SHARE

Banyumas - Upaya memulihkan kesehatan mental anak dari luka trauma kini makin gencar dilakukan melalui pendekatan keagamaan. Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan spiritual yang bertempat di Majelis Taklim Wali Murid RA Diponegoro 147 Wangon. Acara yang dihadiri oleh wali murid pendidik ini bertujuan untuk memberikan panduan praktis bagi para orang tua dalam mendampingi buah hati mereka yang mengalami trauma. Selasa (18/08)

Kegiatan ini memfokuskan pembahasannya pada integrasi antara pemahaman psikologi anak dan nilai-nilai spiritualitas keislaman. Para peserta diberikan pemahaman mengenai gejala trauma pada anak, mulai dari perubahan perilaku hingga gangguan emosional. Melalui wadah majelis taklim ini, para orang tua diajak untuk menciptakan lingkungan rumah yang aman dan penuh kasih sayang sebagai benteng utama pemulihan mental anak.

Dalam pemaparannya, Zain selaku penyuluh agama menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menyalurkan ketenangan spiritual kepada anak. "Pendampingan spiritual bukan sekadar mengajarkan rutinitas ibadah, melainkan menghadirkan rasa aman dan kasih sayang Tuhan dalam keseharian anak. Ketika anak merasa terlindungi dan dicintai, proses penyembuhan trauma dari dalam jiwanya akan berjalan jauh lebih cepat," ungkap Zain di hadapan para anggota majelis taklim.

Selain penyampaian materi secara teoretis, sesi penyuluhan juga dilengkapi dengan simulasi interaktif mengenai teknik komunikasi empatis. Para ibu diajarkan cara merespons ketakutan anak dengan doa, kalimat-kalimat thoyyibah yang menenangkan, serta metode mendengarkan tanpa menghakimi. Pendekatan ini diharapkan dapat menggantikan rasa cemas pada diri anak dengan rasa percaya diri dan ketenangan batin.

Kegiatan penyuluhan yang berlangsung hangat ini mendapat antusiasme tinggi dari para wali murid RA Diponegoro 147 Wangon. Pihak penyelenggara berharap metode pemulihan trauma berbasis spiritual ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan keluarga masing-masing, sehingga anak-anak dapat tumbuh kembali menjadi pribadi yang ceria, tangguh, dan berakhlak mulia. (jhr)