HUT RI #81

Perangi Hawa Nafsu Adalah Jihad Akbar (Jihad Besar)

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
02 Mar 2026
40x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam Ramadhan ke-12 itu turun dengan hening yang khidmat. Di bawah cahaya lampu Masjid Baiturrohim, jamaah dari berbagai penjuru berkumpul dalam balutan kesederhanaan dan harap. Pada momentum Tarawih Keliling (Tarling) tersebut, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, menyampaikan tausiyah Ramadhan yang mengguncang kesadaran: Puasa Melatih Menahan Hawa Nafsu sebagai Jihad Akbar. Senin (02/03)

Dengan suara tenang namun berwibawa, Muhammad Taubah tidak sekadar berbicara, melainkan menuntun. Kata demi kata mengalir seperti doa yang panjang, menembus kebisingan batin yang kerap tak disadari. Jamaah menyimak dalam diam, seolah setiap kalimat adalah cermin yang memantulkan wajah diri sendiri—apa adanya, tanpa topeng.

Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa jihad terbesar bukanlah pertarungan fisik, melainkan perjuangan melawan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri. Puasa, menurutnya, adalah madrasah keikhlasan yang mengajarkan manusia untuk berkata “cukup” di tengah dorongan ingin berlebih. Menahan lapar hanyalah permulaan; yang lebih berat adalah menahan amarah, mengekang kesombongan, meredam iri, serta menundukkan ego yang kerap ingin menang sendiri. “Di situlah jihad akbar berlangsung,” ujarnya pelan, namun menghujam.

Suasana masjid terasa menghangat. Beberapa jamaah menunduk, larut dalam perenungan. Ada air mata yang jatuh tanpa suara—air mata kesadaran. Malam itu, puasa tidak lagi dipahami sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai jalan panjang menuju kemerdekaan jiwa. Ramadhan hadir bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan; bukan untuk menyiksa, melainkan untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsunya sendiri.

Tausiyah tersebut juga menegaskan bahwa keberhasilan puasa diukur bukan dari seberapa lama menahan lapar, melainkan sejauh mana ia membentuk akhlak setelah berbuka. Jika puasa melahirkan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian, maka jihad akbar itu sedang dimenangkan—sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Usai tarawih, jamaah beranjak pulang dengan langkah yang lebih tenang. Malam kian larut, namun pesan itu tetap menyala di dada. Di Masjid Baiturrohim, Tarling Ramadhan malam ke-12 bukan sekadar agenda ibadah keliling, melainkan peristiwa batin: pengingat bahwa musuh terbesar manusia sering kali adalah dirinya sendiri, dan puasa adalah senjata paling lembut—namun paling ampuh—untuk menaklukkannya.

Malam itu, Ramadhan kembali mengajarkan satu hal sederhana yang kerap terlupa: bahwa kemenangan sejati tidak dirayakan dengan sorak, melainkan dengan air mata—air mata orang-orang yang sedang belajar menjadi manusia seutuhnya.