Perjalanan Batin Untuk Menyelami Makna Ketauhidan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas - Di tengah riuh kehidupan yang kian berlari tanpa jeda, suara lembut lantunan ayat suci kembali menghidupkan pagi di Majlis Taklim Baitus Sehah. Rabu pagi itu, wajah-wajah teduh para ibu duduk bersila dengan penuh khidmat, membawa mushaf, buku catatan kecil, dan hati yang haus akan cahaya ilmu. Di hadapan mereka, Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, hadir dengan kesederhanaan yang menenangkan, menyampaikan materi tentang memahami makna Surat Al Ikhlas. Rabu (29/04)

Kegiatan pengajian yang berlangsung hangat tersebut tidak sekadar menjadi ruang belajar membaca ayat demi ayat, melainkan juga perjalanan batin untuk menyelami makna ketauhidan yang begitu agung dalam surat pendek namun sarat kemuliaan itu. Dengan tutur kata yang lembut dan mudah dipahami, Dwi Astuti mengajak para jamaah memahami bahwa Surat Al Ikhlas bukan hanya bacaan yang kerap dilantunkan dalam salat, tetapi juga inti dari penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT.

“Keikhlasan adalah rumah bagi ketenangan jiwa. Ketika hati benar-benar mengenal Allah sebagai tempat bergantung satu-satunya, maka hidup akan terasa lebih ringan,” tutur Dwi Astuti di sela penyampaian materi, disambut anggukan haru para jamaah.

Suasana majlis terasa begitu syahdu ketika pembahasan sampai pada makna ayat “Allahus Shamad,” tentang Allah tempat bergantung segala makhluk. Beberapa ibu tampak menundukkan kepala, menyeka air mata yang perlahan jatuh di pipi mereka. Ada yang teringat beratnya perjuangan hidup, ada yang diam-diam menyimpan luka, dan ada pula yang menemukan penghiburan dalam kalimat-kalimat suci yang selama ini mungkin hanya dibaca tanpa benar-benar dipahami.

Majlis Taklim Baitus Sehah pagi itu seolah menjadi pelabuhan kecil bagi hati-hati yang lelah. Tidak ada kemewahan ruangan, tidak ada gemerlap dunia, namun kehangatan ilmu dan ketulusan dakwah menghadirkan kedamaian yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan KUA Jatilawang dalam membina kehidupan beragama masyarakat melalui pendekatan yang humanis dan menyentuh hati. Kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi cahaya yang menuntun umat untuk semakin dekat dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir kegiatan, para jamaah tampak enggan beranjak. Mereka bersalaman dengan mata yang berkaca-kaca, seakan membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi juga ketenangan yang lama dirindukan. Dari sebuah majlis sederhana, Surat Al Ikhlas kembali mengajarkan bahwa dalam dunia yang sering membuat manusia merasa sendiri, masih ada Allah Yang Maha Esa, tempat seluruh hati bersandar dan kembali.