HUT RI #81

Puasa Ramadhan Adalah Jalan Pulang ke Surga Bersama Keluarga

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Feb 2026
34x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam Ramadhan itu turun dengan lembut, seolah langit ikut menahan napas. Di Masjid An Nur dipenuhi jamaah dari berbagai usia: anak-anak, orang tua, hingga mereka yang rambutnya telah memutih oleh waktu. Di tempat suci itulah, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama pada KUA Jatilawang, melaksanakan Tarawih Keliling (Tarling), menghadirkan tausiah yang bukan sekadar didengar, melainkan dirasakan hingga ke palung jiwa. Senin (23/02)

Berlokasi di Masjid An Nur, Tarling malam itu menjelma menjadi peristiwa spiritual yang menggetarkan. Dengan bahasa yang teduh dan penuh kasih, Muhammad Taubah menyampaikan materi tentang hakikat Puasa Ramadhan sebagai penolong—sebuah sahabat setia yang kelak menggandeng tangan manusia menuju pintu surga, tidak sendiri, melainkan bersama keluarga yang dicintai.

“Puasa,” tuturnya dengan suara bergetar namun mantap, “bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perisai jiwa, penenang amarah, dan cahaya yang kelak bersaksi di hadapan Allah. Puasa yang dijaga dengan iman dan keikhlasan akan memohonkan kita agar dipertemukan kembali—di surga—bersama orang-orang yang kita cintai.” Kalimat itu meluncur perlahan, namun menghantam hati dengan kekuatan yang tak terelakkan.

Beberapa jamaah tampak menunduk. Ada yang memejamkan mata, ada pula yang diam-diam menyeka air mata. Sebab pesan itu sederhana, tetapi menyentuh kegelisahan paling manusiawi: kerinduan untuk berkumpul kembali dengan keluarga, bukan hanya di dunia yang fana, tetapi di kehidupan yang abadi.

Muhammad Taubah menekankan bahwa Ramadhan adalah madrasah keluarga. Puasa mengajarkan orang tua tentang keteladanan, anak-anak tentang kesabaran, dan seluruh anggota keluarga tentang saling menguatkan dalam kebaikan. Dari sahur yang sunyi, doa bersama menjelang berbuka, hingga sujud-sujud panjang di sepertiga malam—semuanya adalah benang-benang halus yang menenun jalan menuju keselamatan.

Tarling itu meninggalkan gema panjang di dalam dada para jamaah. Malam semakin larut, tetapi hati terasa terang. Sebab pada malam itu, Masjid An Nur bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan ruang perjumpaan antara harapan dan keinsafan.

Ramadhan kembali diingatkan bukan sekadar bulan ritual, melainkan kesempatan—kesempatan untuk memperbaiki diri, menjaga keluarga dalam ketaatan, dan menyiapkan bekal agar kelak, ketika pintu surga dibuka, kita tidak melangkah sendirian.