HUT RI #81

Puasa Ramadhan Menuju Manusia Paripurna

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Feb 2026
50x dibaca
SHARE

Banyumas — Malam Ramadhan kembali menurunkan ketenangannya. Di antara desah angin dan lantunan doa yang mengalun lirih, Mushola Al Fattah menjadi saksi peristiwa batin yang menggetarkan. Pada malam penuh berkah itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, melaksanakan Tarawih Keliling (Tarling), menyampaikan pesan yang menembus batas usia, latar belakang, dan perasaan manusia. Senin (23/02)

Bertempat di Mushola Al Fattah, tausiah yang disampaikan tidak berhenti pada tataran kewajiban ibadah. Dengan bahasa yang lembut namun sarat makna, Muhammad Taubah menguraikan bahwa Puasa Ramadhan adalah jalan panjang yang menuntun manusia menuju keparipurnaan—menjadi manusia seutuhnya, lahir dan batin.

“Puasa,” tuturnya dalam keheningan yang khidmat, “mendidik kita menjadi manusia yang paripurna. Ia mengajarkan tubuh untuk taat, hati untuk jujur, dan jiwa untuk berserah. Ketika lapar menundukkan ego dan dahaga melembutkan amarah, di situlah manusia kembali pada fitrahnya.” Kalimat itu mengalir pelan, namun meninggalkan getar yang menetap lama di dada para jamaah.

Suasana masjid seketika berubah menjadi ruang perenungan bersama. Jamaah menunduk, sebagian terdiam dengan mata yang berkaca. Sebab yang dibicarakan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan potret diri: tentang manusia yang sering lupa, mudah tersesat oleh keinginan, dan kerap melukai sesama—namun selalu diberi kesempatan untuk kembali.

Muhammad Taubah menegaskan bahwa keparipurnaan manusia tidak lahir dari kesempurnaan tanpa cela, melainkan dari kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Puasa membimbing manusia agar mampu mengendalikan lisan, menata hati, menahan tangan dari kezaliman, serta melapangkan jiwa untuk memaafkan. Dari sanalah, kata dia, manusia belajar menjadi hamba yang utuh: beriman, berakhlak, dan berempati.

Tarling malam itu berakhir dalam sunyi yang penuh makna. Tidak ada sorak, tidak ada hiruk. Hanya langkah-langkah pelan jamaah meninggalkan masjid dengan hati yang terasa lebih ringan, namun pikiran yang semakin dalam.

Ramadhan kembali hadir sebagai cermin. Dan melalui Tarawih Keliling itu, umat diingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan panjang untuk memanusiakan manusia—hingga kelak, ia layak disebut sebagai insan yang paripurna.