HUT RI #81

Rajut Silaturahmi Antara KUA Jatilawang dan Tokoh Agama

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
14 Okt 2026
29x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 15-10-2026 07:22
SHARE

Jatilawang — Silaturahmi bukan sekadar menyambung perjumpaan, melainkan ikhtiar merawat kepercayaan dan menumbuhkan harapan. Dari percakapan yang hangat, sering kali lahir gagasan besar yang kelak membawa manfaat bagi banyak orang. Rabu (14/10)

Semangat itulah yang tercermin dalam kunjungan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada tokoh masyarakat Desa Adisara, Kyai Tarsono. Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana membahas peluang kolaborasi antara KUA Jatilawang dan Pemerintah Desa (Pemdes) Adisara dalam memperkuat kegiatan penyuluhan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam suasana penuh keakraban, keduanya membicarakan pentingnya membangun sinergi antara penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan keagamaan, mendekatkan pesan-pesan kebaikan kepada warga, serta menghadirkan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Muhammad Taubah, penyuluhan agama bukan semata-mata menyampaikan nasihat dari mimbar ke mimbar. Lebih dari itu, penyuluhan merupakan perjalanan untuk mengetuk pintu hati, mendengarkan persoalan umat, dan menghadirkan agama sebagai sumber ketenteraman dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, tokoh masyarakat seperti Kyai Tarsono memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan dengan warga. Keteladanan, kepercayaan, dan kearifan para tokoh desa menjadi jembatan yang dapat mempertemukan program pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Melalui pembahasan kolaborasi tersebut, KUA Jatilawang dan Pemdes Adisara diharapkan dapat membangun kerja sama yang berkelanjutan dalam berbagai bidang pembinaan keagamaan, penguatan keluarga, penanaman nilai-nilai akhlak, serta pemeliharaan kerukunan dan kepedulian sosial.

Sebab, tantangan kehidupan masyarakat tidak selalu dapat dijawab hanya dengan program dan administrasi. Ada persoalan yang membutuhkan kesabaran untuk mendengar, kebijaksanaan untuk memahami, dan ketulusan untuk mendampingi. Di sinilah kehadiran penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa menjadi penting: berjalan bersama agar tidak ada warga yang merasa sendirian menghadapi persoalan hidupnya.

Silaturahmi tersebut juga mengingatkan bahwa membangun umat bukanlah pekerjaan satu orang atau satu lembaga. Ia merupakan ikhtiar bersama yang memerlukan keterbukaan, komunikasi, dan kesediaan untuk saling menguatkan.

Pada akhirnya, keberhasilan penyuluhan agama bukan hanya diukur dari berapa banyak pertemuan terlaksana atau berapa banyak materi tersampaikan. Ukuran yang lebih bermakna ialah ketika keluarga menjadi lebih tenteram, hubungan antartetangga semakin harmonis, anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik, dan masyarakat semakin dekat dengan nilai-nilai luhur agama.

Sebab, kebaikan yang paling indah bukanlah kebaikan yang hanya terdengar dalam kata-kata, melainkan kebaikan yang hadir dan dirasakan dalam kehidupan.

Dari silaturahmi Muhammad Taubah dan Kyai Tarsono, tersimpan harapan agar kolaborasi KUA Jatilawang dengan Pemdes Adisara dapat menjadi langkah nyata dalam menebarkan manfaat bagi masyarakat. Sebuah ikhtiar sederhana yang, apabila dirawat dengan ketulusan dan diwujudkan melalui kerja bersama, dapat menjadi jalan panjang menuju kehidupan desa yang religius, harmonis, dan penuh keberkahan.

Karena ketika hati dipertemukan oleh niat baik, perbedaan dapat dirangkul, persaudaraan dapat dikuatkan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik dapat tumbuh bersama.(tum)