Rakernas Kemenag: Menyongsong Masa Depan Umat dengan Pondasi Rukun, Maslahat, dan Cerdas

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, melaporkan jalannya sesi strategis dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama RI. Sesi pertama tersebut mengusung tema krusial, “Mempersiapkan Umat Masa Depan: Antara Idealita dan Realita”, yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama serta pemikir kebangsaan terkemuka sebagai narasumber. Rabu (17/12)

Panel diskusi ini menghadirkan Frans Magnis Suseno, Philip Kuncoro Wijaya (Ketua Umum Permabudhi), I Ketut Budiawan (Sekretaris Bidang Pendidikan PHDI), serta Yudi Latif (Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan). Diskusi dipandu oleh moderator Mastuki, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM.

Dalam pengantarnya, Mastuki menjelaskan bahwa lokakarya ini memfokuskan pembahasan pada tiga pilar utama, yakni imajinasi atau gambaran konstruksi umat masa depan yang ingin dibangun, pengaruh tren global dan konteks nasional terhadap tatanan umat, serta skenario konkret pengembangan umat dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan. "Seluruh langkah strategis ini berakar pada visi besar Kementerian Agama, yakni menciptakan umat yang Rukun, Maslahat, dan Cerdas" ungkapnya. 

Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan, Yudi Latif, memberikan pandangan optimis mengenai eksistensi agama di masa depan. Menurutnya, secanggih apa pun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), fenomena keagamaan tidak akan pernah hilang karena merupakan bagian intrinsik dari jati diri manusia.
"Apapun perkembangan peradaban ke depan, itu tidak akan mematikan fenomena keagamaan. Jadi tak usah khawatir Kementerian Agama kehilangan relevansinya di masa depan," tegas Yudi Latif.

Sementara itu, tokoh intelektual Katolik Frans Magnis Suseno (Romo Magnis), menitikberatkan pada pentingnya nilai-nilai kemanusiaan universal. Beliau sangat mengapresiasi kerangka kerja (Terms of Reference) yang disusun Kemenag, yang menekankan pada penguatan toleransi, inklusivitas, kepedulian lingkungan, serta cinta kasih.

Romo Magnis menilai Indonesia merupakan potret keberhasilan dunia dalam membangun harmoni antarpengikut agama. Meskipun tantangan intoleransi tetap ada, kehadiran negara melalui program Moderasi Beragama dinilai sangat efektif.
"Indonesia mampu menciptakan suasana damai. Kementerian Agama telah berhasil hadir dengan program Moderasi Beragama yang konsisten digelorakan, dan lembaga ini sangatlah diperlukan oleh bangsa Indonesia dalam menjaga kedamaian umat," pungkas Romo Magnis.

Melalui Rakernas ini, Kementerian Agama mempertegas posisinya sebagai pengawal kerukunan nasional yang adaptif terhadap perubahan zaman namun tetap teguh pada nilai-nilai spiritualitas bangsa. (adl)