Sapa Warga Binaan di Bulan Suci, Penyuluh Bimbing Baca Al-Quran Massal di Lapas Kelas IIA
Purwokerto – Gema ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu dari balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto. Sebanyak 110 warga binaan antusias mengikuti bimbingan rohani yang dipandu oleh Taufiq Hidayatulloh, Penyuluh Agama Islam fungsional wilayah Purwokerto Timur. Selasa (24/02)
Kegiatan yang berpusat di Masjid At-Taubah kompleks Lapas ini dirancang untuk mempertebal keimanan para warga binaan, terutama di momen spesial bulan Ramadan. Taufiq menjelaskan bahwa pendekatan spiritual diawali dengan penguatan zikir sebelum masuk ke materi utama.
"Kegiatan kami awali dengan pembacaan Asmaul Husna bersama-sama di Masjid At-Taubah, yang kemudian dilanjutkan dengan bimbingan membaca Al-Qur’an. Terlebih di bulan Ramadan ini, semangat para warga binaan untuk memperbaiki diri sangat terasa," ujar Taufiq.
Taufiq juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kerja tim yang solid untuk memastikan seluruh warga binaan mendapatkan pendampingan yang maksimal.
"Saya tidak sendiri, ada beberapa rekan penyuluh agama Islam lainnya yang turut terjun langsung. Kami berbagi tugas agar bimbingan ini berjalan efektif dan menyentuh setiap individu sesuai tingkat kemampuan bacaan mereka," tambahnya.
Lebih lanjut, Taufiq menambahkan bahwa target dari kegiatan ini bukan sekadar kelancaran lisan dalam membaca, melainkan transformasi batin. Ia berharap Al-Qur'an dapat menjadi "sahabat" yang menenangkan bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
"Kami ingin mereka merasakan bahwa Ramadan adalah momen hijrah yang nyata. Al-Qur'an adalah cahaya, dan kami hadir untuk membantu mereka menemukan kembali cahaya itu di sini," tutur Taufiq.
Sementara itu, Nurul, salah satu petugas Lapas Kelas IIA Purwokerto, memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran para penyuluh agama. Menurutnya, sinergi antara Lapas dan Kemenag sangat membantu dalam proses pembinaan karakter.
"Kami sangat berterima kasih kepada para penyuluh. Kegiatan seperti ini sangat positif untuk mengisi waktu warga binaan di bulan puasa dengan hal-hal yang bermanfaat. Secara psikologis, bimbingan agama ini memberikan ketenangan bagi mereka, sehingga situasi di dalam Lapas tetap kondusif dan penuh kekeluargaan," ungkap Nurul.
Kegiatan rutin ini diharapkan dapat mencetak lulusan Lapas yang tidak hanya mandiri secara keterampilan, tetapi juga kuat secara spiritual saat kembali ke masyarakat nanti. (jw)
