Sebelum Akad Terucap, Data Harus Bicara Jujur

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan hanya tentang dua hati yang sepakat untuk hidup bersama. Di balik sebuah akad yang kelak diucapkan dengan penuh keyakinan, ada serangkaian proses yang harus dipersiapkan dengan teliti agar perjalanan menuju rumah tangga dimulai dengan kepastian, ketertiban, dan tanggung jawab. Selasa (04/08)

Hal itulah yang dilakukan Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang, saat melaksanakan pemeriksaan berkas-berkas pernikahan sekaligus validasi data calon pengantin, Anang Agus Septian dan Irene Meiliadina, dari Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang.

Pemeriksaan berkas dilakukan dengan penuh kecermatan. Setiap data menjadi bagian penting yang harus dipastikan kesesuaiannya, karena di balik nama, tanggal lahir, identitas, dan dokumen administrasi terdapat manusia yang sedang menyiapkan salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya.

Bagi masyarakat, pemeriksaan dokumen mungkin tampak sebagai pekerjaan administratif yang sederhana. Namun bagi calon pengantin, ketelitian tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Sebab ketika dua insan hendak mengucapkan akad, tidak hanya hati yang harus siap, tetapi seluruh proses administrasi juga harus dipastikan berjalan secara benar dan tertib.

Iskandar Zulkarnain menjalankan proses pemeriksaan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar memastikan data calon pengantin valid dan sesuai dengan dokumen yang dipersyaratkan. Ketelitian menjadi prinsip penting, sebab sebuah kesalahan kecil dalam administrasi dapat menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Di balik meja pemeriksaan berkas, sesungguhnya terdapat sebuah kisah yang begitu manusiawi. Ada dua orang yang sedang menata masa depan, ada keluarga yang menunggu hari bahagia, dan ada doa-doa yang mungkin telah lama dipanjatkan agar anak-anak mereka menemukan pasangan yang tepat.

Karena itu, validasi data menjadi bagian dari perjalanan menuju akad. Setiap berkas diperiksa bukan sekadar untuk memenuhi prosedur, melainkan sebagai bentuk pelayanan yang menjunjung ketelitian, kepastian, dan perlindungan hak masyarakat.

Ada sesuatu yang indah dalam proses yang tampak sederhana tersebut. Sebelum dua manusia mengucapkan kata “saya terima”, ada banyak hal yang terlebih dahulu harus dipastikan. Seolah kehidupan sedang mengajarkan bahwa sesuatu yang sakral memang layak dipersiapkan dengan kesungguhan.

Sebelum tangan saling menggenggam dalam akad, dokumen harus terlebih dahulu berbicara dengan benar. Sebelum dua hati berjanji sehidup semati, segala sesuatu yang menjadi dasar perjalanan itu harus dipastikan tanpa keraguan.

Pelayanan yang dilakukan Iskandar Zulkarnain juga menggambarkan wajah KUA yang hadir dekat dengan masyarakat. Penghulu tidak hanya berperan ketika akad berlangsung, tetapi juga mendampingi proses menuju pernikahan agar calon pengantin memperoleh pelayanan yang tertib, jelas, dan bertanggung jawab.

Di balik setiap dokumen yang diperiksa, ada masa depan yang sedang dipersiapkan. Di balik setiap data yang divalidasi, ada keluarga yang menaruh harapan. Dan di balik setiap proses administrasi, ada doa agar pernikahan yang akan dilangsungkan benar-benar menjadi awal kehidupan yang penuh keberkahan.

Kelak, ketika Anang Agus Septian dan Irene Meiliadina berdiri di hadapan wali dan saksi untuk mengucapkan akad, mungkin mereka tidak lagi mengingat detail setiap lembar dokumen yang pernah diperiksa. Namun proses itulah yang menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju hari besar tersebut.

Sebab pernikahan memang dibangun dari hal-hal besar yang sakral, tetapi juga dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Semoga seluruh proses menuju pernikahan Anang Agus Septian dan Irene Meiliadina dimudahkan Allah SWT. Semoga setiap langkah persiapannya menjadi jalan menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Dan semoga kelak, ketika usia telah berjalan jauh dan keduanya menoleh ke belakang, mereka menyadari bahwa kebahagiaan besar yang mereka rasakan hari ini pernah dimulai dari langkah-langkah sederhana—dari dokumen yang diperiksa, data yang divalidasi, doa yang dipanjatkan, hingga sebuah akad yang akhirnya mengubah dua nama menjadi satu keluarga.

Karena sebelum sebuah rumah tangga berdiri kokoh, ada banyak hal yang harus diletakkan pada tempatnya. Dan sebelum sebuah janji seumur hidup diucapkan, setiap persiapannya layak dilakukan dengan ketelitian, kejujuran, dan sepenuh hati.