HUT RI #81

Semangat Tadarus dan Pendalaman Fikih Puasa di MT Al-Kautsar Somagede

KUA Somagede
KUA Somagede
20 Feb 2026
45x dibaca
SHARE

Banyumas – Datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H membawa energi positif bagi kegiatan syiar Islam di wilayah Somagede. Hal ini nampak jelas dari antusiasme Nuryati, Penyuluh Agama Islam PPPK dari KUA Somagede, dalam mendampingi jamaah Majlis Ta’lim (MT) Al-Kautsar. Jumat (20/2).

Ada yang berbeda pada jadwal pertemuan kali ini. Jika biasanya pengajian dilaksanakan selepas salat Jumat, khusus selama bulan Ramadhan, kegiatan dimajukan lebih awal mulai pukul 10.00 WIB. Perubahan waktu ini justru menambah kekhusyukan jamaah dalam mengisi waktu luang di pagi hari dengan kegiatan bermanfaat.

Rangkaian Kegiatan: Dari Tadarus hingga Literasi Fikih

Kegiatan dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an. Para jamaah melakukan tadarus bersama dengan metode saling menyimak, memastikan setiap tajwid dan makhraj dibaca dengan benar.

Setelah hati ditenangkan dengan kalam Ilahi, acara dilanjutkan dengan sesi pendalaman materi. Kali ini, Nuryati membedah tema krusial: Fikih Puasa. Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain:

* Rukun Puasa: Menekankan pentingnya Niat dan Imsak (menahan diri).
* Pembatal Puasa: Edukasi mengenai hal-hal teknis yang membatalkan ibadah secara syariat.
* Penyakit Hati: Mengingatkan jamaah tentang hal-hal yang tidak membatalkan puasa secara fisik, namun menghanguskan pahalanya, seperti marah-marah, berbohong, dan ghibah (menggunjing).

Untuk memberi kesan mendalam, Nuryati menceritakan sebuah riwayat tentang dua orang wanita di zaman Rasulullah SAW yang tetap merasa sangat lapar dan haus saat berpuasa karena mereka sibuk berghibah.

"Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga secara fisik, tapi juga menjaga lisan. Kisah tersebut menjadi pengingat bagi kita agar tidak membiarkan pahala puasa kita menguap begitu saja karena lisan yang tidak terjaga," ujar Nuryati di hadapan para jamaah.

Melalui bimbingan ini, diharapkan jamaah MT Al-Kautsar tidak hanya menjalankan rutinitas menahan lapar, tetapi mampu meraih kualitas puasa yang sempurna (kaffah).

Sumber Berita Nuryati, S.H.