HUT RI #81

Suami Adalah Lengan Perlindungan Bagi Istri Saat Menghadapi Ujian Hidup

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Feb 2026
39x dibaca
SHARE

Banyumas — Di ruang Balai Nikah yang dipenuhi cahaya pagi dan harapan masa depan, keheningan berubah menjadi perenungan mendalam. Bukan karena kesedihan, melainkan oleh kata-kata yang menyentuh relung paling sunyi dalam hati. Hari itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama pada KUA Jatilawang, menyampaikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada dua insan yang bersiap menapaki gerbang suci pernikahan Alan Setiawan dan Ade M Pratiwi. Senin (23/02)

Dengan suara tenang namun sarat makna, Muhammad Taubah tidak sekadar berbicara tentang akad, hak, dan kewajiban. Ia menuturkan tentang makna perlindungan—sebuah kata yang sering terdengar sederhana, namun sesungguhnya berat dipikul dan agung ditunaikan. Perlindungan seorang suami, katanya, bukan hanya tentang nafkah dan atap rumah, melainkan tentang hadirnya rasa aman di saat dunia mengguncang, dan doa yang tak putus saat maut memanggil.

“Seorang suami,” ujar Taubah dengan mata yang berkaca, “adalah benteng bagi istrinya. Ia melindungi dengan lengan ketika hidup menguji, dan dengan iman ketika waktu berakhir. Dunia dan akhirat adalah satu rangkaian tanggung jawab.” Kata-kata itu menggema, menembus sekat usia, latar belakang, dan pengalaman—membuat siapa pun yang mendengar menunduk, merenung, bahkan menahan air mata.

Alan Setiawan, calon suami, tampak menyimak dengan dada bergetar. Di hadapannya bukan sekadar pelajaran, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhan. Sementara Ade M Pratiwi, calon istri, menyimak dengan harap dan keyakinan, bahwa pernikahan adalah persekutuan dua jiwa yang saling menjaga—bukan hanya dalam tawa, tetapi juga dalam luka.

Bimwin itu menjelma menjadi lebih dari sekadar kegiatan rutin. Ia menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan panggung kemewahan, melainkan perjalanan ibadah. Bahwa cinta sejati tidak diukur dari kata manis, melainkan dari kesediaan melindungi, membimbing, dan bertahan—hingga napas terakhir, hingga kehidupan berikutnya.

Di akhir sesi, suasana hening kembali menyelimuti ruangan. Beberapa hadirin menyeka mata. Sebab pada pagi itu, semua yang hadir diingatkan kembali: bahwa menjadi suami adalah tentang keberanian memikul tanggung jawab cinta yang tak lekang oleh waktu. Dan bahwa pernikahan, jika dimulai dengan kesadaran dan iman, mampu menjadi jalan keselamatan—di dunia, dan di akhirat.