HUT RI #81

Tips Membuat Pasangan Merasa Nyaman

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
02 Mar 2026
30x dibaca
SHARE

Banyumas—Di sebuah ruang sederhana yang sarat makna, bukan gemerlap pesta yang dibicarakan, melainkan bekal paling hakiki untuk menempuh hidup bersama. Hari itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Aguas Pratama dan Efi Indriyana. Tema yang diangkat terdengar sederhana, namun sesungguhnya menentukan arah seumur hidup: tips membuat pasangan merasa nyaman. Senin (02/03)

Dengan tutur yang tenang dan penuh empati, Muhammad Taubah tidak menempatkan perkawinan sebagai panggung kebahagiaan semata, melainkan sebagai perjalanan panjang yang menuntut kedewasaan hati. Ia menegaskan bahwa rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling bersedia mengerti. “Kenyamanan,” ujarnya lirih, “lahir dari rasa aman, didengar, dan dihargai—bahkan saat kita berbeda.”

Bimbingan itu berlangsung dalam suasana hangat. Tidak ada jarak antara pemateri dan peserta, seolah yang hadir bukan hanya seorang penyuluh dan dua calon pengantin, melainkan seorang sahabat yang sedang menitipkan pengalaman hidup. Muhammad Taubah mengingatkan bahwa kata-kata yang lembut, sikap saling menghargai, dan kesediaan meminta maaf sering kali lebih berharga daripada materi apa pun. Dalam pernikahan, katanya, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan untuk terus merawat.

Aguas Pratama dan Efi Indriyana menyimak dengan saksama. Di wajah mereka, tersirat harapan sekaligus kesadaran. Bahwa kehidupan setelah akad bukanlah cerita tanpa luka, melainkan ruang belajar yang membutuhkan kesabaran. Bahwa pasangan bukan tempat menuntut kesempurnaan, tetapi tempat kembali—meski dunia sedang tidak ramah.

Materi tentang kenyamanan pasangan itu menyentuh sisi paling manusiawi. Muhammad Taubah menekankan pentingnya komunikasi jujur, saling mendukung di saat lemah, serta menjaga adab dalam perbedaan. “Jika pasangan merasa nyaman di rumah,” tuturnya, “maka rumah itu akan menjadi tempat paling aman, bahkan ketika seluruh dunia terasa melelahkan.”

Bimbingan Perkawinan tersebut menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya soal sah secara hukum dan agama, tetapi juga kesiapan batin untuk berjalan beriringan. Bukan tentang siapa yang lebih dominan, melainkan siapa yang lebih tulus menjaga perasaan. Dan bukan tentang seberapa megah resepsi, melainkan seberapa tenang hati saat kelak menjalani hari-hari biasa.

Di akhir sesi, suasana terasa hening. Bukan karena kata-kata habis, tetapi karena makna sedang bekerja di dalam hati. Bimwin itu meninggalkan jejak yang dalam—sebuah pelajaran bahwa cinta sejati bukan yang membuat jantung berdebar sesaat, melainkan yang membuat pasangan merasa pulang, tenang, dan diterima apa adanya.

Di Jatilawang, pada hari yang bersahaja itu, dua calon pengantin tidak hanya dipersiapkan untuk menikah, tetapi diajak belajar tentang seni paling sulit dalam hidup bersama: membuat orang yang kita cintai merasa nyaman, hari ini, esok, dan sepanjang usia.