HUT RI #81

Usulan Bantuan yang Lahir dari Empati dan Nurani untuk Marbot Se-Kecamatan Jatilawang

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
20 Feb 2026
28x dibaca
SHARE

Banyumas —KUA Jatilawang menggelar rapat koordinasi (Rakor) yang sarat makna kemanusiaan. Rakor tersebut dihadiri oleh Kepala KUA, para Penyuluh Agama, Penghulu, serta seluruh staf KUA Jatilawang—mereka yang setiap harinya menjaga denyut pelayanan keagamaan di tingkat paling dasar masyarakat. Jum’at (20/02)

Rakor ini bukan sekadar forum administratif. Di dalamnya, dibahas sebuah usulan yang lahir dari empati dan nurani: pengajuan bantuan bagi para marbot masjid dan mushola se-Kecamatan Jatilawang kepada Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Sebuah usulan yang sederhana dalam rupa, namun agung dalam makna.

Para marbot—penjaga rumah Tuhan—menjadi pokok pembahasan dengan penuh penghormatan. Mereka adalah sosok-sosok yang kerap luput dari sorotan, namun tak pernah absen dari pengabdian. Dalam sepi dan ramai, mereka membersihkan sajadah, menyalakan lampu, membuka pintu masjid sebelum azan berkumandang, dan menutupnya kembali setelah doa-doa usai. Mereka hadir lebih awal, pulang paling akhir, tanpa tepuk tangan, tanpa gelar, dan sering kali tanpa jaminan kesejahteraan.

Dalam suasana Rakor yang khidmat, setiap peserta menyampaikan pandangan dengan nada rendah dan hati yang sama: bahwa marbot bukan sekadar petugas kebersihan atau penjaga kunci, melainkan penjaga kesucian ruang ibadah dan saksi bisu sujud umat. Usulan bantuan ini diharapkan menjadi bentuk kehadiran negara dan kepedulian institusi keagamaan terhadap mereka yang mengabdi dalam diam.

Kepala KUA Jatilawang menegaskan bahwa pengajuan bantuan tersebut merupakan tanggung jawab moral bersama. “Masjid dan mushola hidup bukan hanya oleh bangunannya,” ungkapnya, “tetapi oleh tangan-tangan ikhlas yang merawatnya setiap hari.” Kalimat itu menggema pelan, namun meninggalkan jejak yang dalam di hati seluruh peserta rapat.

Rakor berlangsung tanpa hiruk-pikuk, namun penuh kesungguhan. Setiap kata ditimbang dengan rasa, setiap keputusan diikat dengan niat. Sebab yang dibahas bukan angka semata, melainkan martabat manusia—mereka yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk menjaga rumah Tuhan tetap bersih, terang, dan terbuka bagi siapa saja.

Dari Rakor KUA Jatilawang ini, harapan dikirimkan ke tingkat kabupaten: semoga usulan tersebut dapat diterima dan diwujudkan. Lebih dari itu, semoga para marbot merasa dilihat, dihargai, dan dimuliakan. Karena di balik lantai masjid yang bersih dan mushola yang tenang, ada pengabdian panjang yang layak dikenang, didoakan, dan diperjuangkan bersama.