Mujahadah Sholawat Nariyah dan Kajian Kitab Nashoihul Ibad , Ketika Keberkahan Dicabut
Purwokerto – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purwokerto Barat, Iswanto, memimpin kegiatan selapanan Mujahadah Sholawat Nariyah dan Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (LDNU MWC NU) Purwokerto Barat, Selasa malam (3/11), bertempat di Masjid Miftahussalam MWC NU Purwokerto Barat.
Iswanto yang juga menjabat sebagai Ketua LDNU MWC Purwokerto Barat memimpin seluruh rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir. Kegiatan diawali dengan pembacaan Nadlom Asmaul Husna, kemudian dilanjutkan dengan Mujahadah Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali yang dipimpin langsung olehnya. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyertai jama'ah yang hadir mengikuti rangkaian amalan tersebut.
Setelah mujahadah, kegiatan dilanjutkan dengan kajian Kitab Nashoihul 'Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, memasuki maqalah Bab Kedua. Kajian disampaikan oleh KH. Zaeni Mubarok dari Pasir Kidul dengan mengangkat pembahasan mengenai tiga musibah yang dapat menimpa seseorang ketika menjauhi para ulama dan fuqaha (ahli hukum agama).
Dalam penjelasannya, KH. Zaeni Mubarok menguraikan bahwa terdapat tiga ancaman atau musibah yang patut menjadi perhatian umat Islam apabila menjauhkan diri dari bimbingan para ulama dan ahli agama.
Pertama, dicabutnya keberkahan dari usaha dan rezeki (ziyadatul khair atau hilangnya barokah). Seseorang mungkin tetap memperoleh penghasilan dan memiliki harta, tetapi keberkahan dalam kehidupan, usaha, dan rezekinya dapat berkurang. Hal ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi, tetapi juga dari kebermanfaatan dan keberkahan yang menyertainya.
Kedua, dikuasakannya pemimpin yang zalim (sultanun zalim). Ketika masyarakat jauh dari bimbingan moral dan hukum agama, mereka diingatkan akan ancaman hadirnya penguasa yang menindas. Akibatnya, masyarakat dapat mengalami kesusahan karena kebijakan maupun tindakan pemimpin yang tidak berpihak pada nilai-nilai keadilan.
Ketiga, meninggal dunia tanpa membawa iman (khuruj minad dunya bighairi iman atau su'ul khatimah). Ancaman ini merupakan peringatan yang sangat serius bagi setiap muslim. Seseorang dikhawatirkan mengakhiri kehidupannya tanpa membawa iman apabila hatinya jauh dari cahaya ilmu, nasihat para ulama, dan lingkungan orang-orang saleh. Oleh karena itu, menjaga keimanan, memperdalam ilmu agama, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Melalui kajian tersebut, jama'ah diajak untuk senantiasa menghormati dan mendekatkan diri kepada para ulama, menjadikan ilmu agama sebagai pedoman kehidupan, serta menjaga hubungan dengan lingkungan yang senantiasa mengingatkan kepada kebaikan.
Kegiatan selapanan ini menjadi salah satu ikhtiar LDNU MWC Purwokerto Barat dalam merawat tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama sekaligus memperkuat spiritualitas dan pemahaman keislaman masyarakat. Perpaduan antara mujahadah Sholawat Nariyah dan kajian kitab klasik diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, meningkatkan keimanan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Dengan kepemimpinan Iswanto dalam kegiatan tersebut, LDNU MWC NU Purwokerto Barat terus berupaya menghadirkan ruang dakwah yang menggabungkan amaliyah, penguatan ilmu agama, dan pembinaan kehidupan spiritual umat secara berkelanjutan. (is/tum)
