Atasi Perbedaan Pendapat: Catin Belajar Seni Resolusi Konflik Sebelum Menikah
Banyumas - Sebuah kegiatan edukatif yang bertujuan memperkuat kesiapan calon pengantin dalam membangun rumah tangga harmonis berlangsung di kantor KUA Kemranjen. Rofiqoh, Penyuluh Agama Islam KUA Kemranjen, memberikan materi tentang manajemen konflik kepada Agus dan Ninda, pasangan calon pengantin dari Desa Sibalung. Rabu (25/02)
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya KUA setempat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjelang pernikahan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat perceraian di Indonesia mencapai sekitar 10% dari jumlah pasangan yang menikah setiap tahunnya. Banyak faktor penyebab perceraian, salah satunya adalah ketidaksiapan dalam mengelola konflik rumah tangga.
Dalam materinya, Rofiqoh menekankan pentingnya komunikasi efektif sebagai fondasi utama dalam manajemen konflik. Ia menyampaikan bahwa konflik tidak selalu harus dihindari, tetapi harus dikelola dengan baik agar tidak merusak hubungan. "Setiap pasangan pasti menghadapi perbedaan pendapat atau ketidakcocokan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan kepala dingin dan saling memahami," ujarnya.
Selain itu, Rofiqoh juga membahas strategi penyelesaian konflik yang konstruktif, seperti mendengarkan secara aktif, mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan, serta mencari solusi bersama-sama. Ia berbagi pengalaman pribadi dan studi kasus yang relevan untuk memperkaya pemahaman peserta. Dengan pendekatan interaktif, Agus dan Ninda diajak berdiskusi mengenai berbagai skenario konflik rumah tangga dan cara penanganannya.
Sebagai calon pengantin muda, Agus dan Ninda menyambut positif materi ini. Mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya pengelolaan emosi dan komunikasi dalam membangun keluarga bahagia. "Sebelumnya kami belum terlalu memahami bagaimana menghadapi perbedaan pendapat secara sehat. Sekarang kami merasa lebih siap," ujar Ninda.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari catin dan berharap pelatihan semacam ini dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi angka perceraian dan meningkatkan kualitas pernikahan di wilayah tersebut. Kepala KUA Kemranjen, Apriliyanto, menyatakan bahwa kegiatan semacam ini akan terus dilaksanakan secara rutin agar pasangan calon pengantin memperoleh bekal terbaik sebelum memasuki jenjang kehidupan berumah tangga.
Dengan adanya pelatihan manajemen konflik ini, diharapkan pasangan seperti Agus dan Ninda mampu menghadapi tantangan kehidupan berkeluarga secara dewasa dan penuh kesadaran akan pentingnya saling menghormati serta berkomunikasi secara terbuka. Sebuah langkah kecil yang diyakini akan memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan rumah tangga bahagia di masa depan. (rfq)
