HUT RI #81

Bentuk Pembinaan Karakter, Siswa yang Melanggar Aturan di MTs Nurul Iman Cikembulan Diminta Menulis Istighfar 240 Kali

K
kemenag Banyumas1
16 Okt 2026
12x dibaca
Diubah oleh yudi pada 16-10-2026 12:12
SHARE


Banyumas - MTs Nurul Iman Cikembulan menerapkan bentuk pembinaan khusus bagi siswa yang melanggar aturan atau tata tertib madrasah, yaitu dengan menuliskan kalimat istighfar sebanyak 240 kali. Pendekatan pembinaan ini dipilih sebagai salah satu metode yang bersifat mendidik, dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran siswa untuk introspeksi diri atas kesalahan yang telah diperbuat, sekaligus mendekatkan mereka kembali kepada nilai-nilai spiritual keagamaan.


Pemilihan kalimat istighfar sebagai bentuk pembinaan bukan tanpa alasan. Dalam ajaran Islam, istighfar merupakan ungkapan permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Melalui kegiatan menuliskan istighfar secara berulang, siswa diharapkan tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban administratif sebagai konsekuensi dari pelanggaran, tetapi juga benar-benar merenungkan dan menyadari kesalahan yang telah dilakukan.


Proses menuliskan istighfar sebanyak 240 kali ini dilakukan secara mandiri oleh siswa yang bersangkutan, biasanya didampingi atau dipantau oleh guru bimbingan konseling maupun wali kelas. Melalui proses penulisan yang berulang, diharapkan tertanam kesadaran dalam diri siswa untuk tidak mengulangi pelanggaran serupa di kemudian hari.
"Kami ingin pembinaan ini bukan sekadar hukuman, tapi benar-benar menjadi momen bagi siswa untuk introspeksi diri. Dengan menulis istighfar berulang kali, diharapkan ada kesadaran yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri," ujar salah satu guru bimbingan konseling yang menangani proses pembinaan tersebut.

Selain memberikan tugas menuliskan istighfar, guru bimbingan konseling turut berperan dalam memberikan pendampingan dan arahan kepada siswa yang menjalani pembinaan. Proses ini biasanya disertai dengan sesi komunikasi atau nasihat ringan dari guru, guna memastikan siswa benar-benar memahami kesalahan yang telah diperbuat serta mendapatkan dukungan moral dalam proses memperbaiki diri. Pendampingan semacam ini dipandang penting, agar proses pembinaan tidak berhenti hanya pada aspek penulisan istighfar semata, tetapi juga disertai dengan penguatan nilai dan pemahaman yang lebih utuh terkait pentingnya menaati aturan dan menjaga perilaku yang baik di lingkungan madrasah.

Melalui penerapan metode pembinaan ini, MTs Nurul Iman Cikembulan berharap siswa yang pernah melakukan pelanggaran dapat benar-benar menyadari kesalahannya dan termotivasi untuk memperbaiki perilaku ke depannya. Pendekatan yang menggabungkan unsur edukatif dan spiritual ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang lebih bermakna, dibandingkan sekadar sanksi yang bersifat sesaat. Dengan pembinaan karakter yang terus diterapkan secara konsisten, MTs Nurul Iman Cikembulan berupaya memastikan setiap siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya baik secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan dan kesadaran spiritual yang kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah.(tum)