Bimbingan Tadarus Al Quran di MT Baitus Seha oleh Penyuluh KUA

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di MT Baitus Seha, Desa Gentawangi, suara ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan, mengisi udara dengan ketenangan yang menyejukkan hati. Di hadapan para Ibu-Ibu yang duduk bersila dengan penuh harap, Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang dengan ketulusan yang tak tergantikan—mengajarkan bukan sekadar huruf, tetapi juga makna kehidupan. Rabu (22/04)

Kegiatan pembelajaran membaca Al-Qur’an yang dilaksIbu-Ibuan pada hari itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kedekatan. Dengan sabar, Dwi Astuti membimbing satu per satu Ibu-Ibu, memperbaiki makhraj huruf, meluruskan tajwid, serta menuntun mereka agar mampu melafalkan setiap ayat dengan benar dan penuh penghormatan.

“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihayati,” tuturnya lembut, sembari mencontohkan pelafalan yang tepat. Kalimat itu tidak hanya menjadi arahan, tetapi juga menyentuh hati para Ibu-Ibu yang mendengarnya. Di balik setiap huruf yang diajarkan, tersimpan harapan agar generasi muda tumbuh dengan akhlak yang mulia dan iman yang kokoh.

Beberapa Ibu-Ibu yang awalnya terbata-bata perlahan mulai menemukan ritme. Mata mereka berbinar ketika berhasil melafalkan ayat dengan lebih baik. Senyum kecil pun merekah, seakan menjadi tanda kemenangan atas perjuangan mereka sendiri. Di situlah, peran seorang penyuluh agama terasa begitu berarti—hadir sebagai pembimbing yang tidak lelah menuntun, bahkan dalam hal-hal yang tampak sederhana.

Dwi Astuti tidak hanya mengajar dengan metode, tetapi juga dengan hati. Ia memahami bahwa setiap Ibu-Ibu memiliki proses yang berbeda. Dengan kesabaran yang tak bertepi, ia merangkul semua kemampuan, memastikan tidak ada yang tertinggal. Baginya, setiap huruf yang berhasil dibaca dengan benar adalah cahaya kecil yang kelak akan menerangi jalan kehidupan mereka.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata dalam membangun generasi Qur’ani di tengah masyarakat. Di Desa Gentawangi, di ruang yang mungkin tak megah, justru lahir harapan besar—bahwa Ibu-Ibu akan tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an, menjadikannya pedoman dalam setiap langkah.

Ketika waktu belajar usai, suasana haru tak terelakkan. Para Ibu-Ibu menatap penuh hormat, seolah enggan berpisah dengan sosok yang telah dengan tulus membimbing mereka. Sementara itu, Dwi Astuti hanya tersenyum, menyimpan kebahagiaan sederhana yang lahir dari pengabdian.

Di balik kesederhanaan itu, tersimpan makna yang dalam—bahwa mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas, melainkan ibadah yang menghidupkan. Dan di tangan orang-orang yang tulus seperti Dwi Astuti, ayat-ayat suci itu tidak hanya dibaca, tetapi juga ditanamkan, perlahan, hingga tumbuh menjadi cahaya dalam jiwa. Sebuah cahaya yang mungkin tak langsung terlihat, namun kelak akan menerangi dunia dengan cara yang paling indah.