Bimwin Catin KUA Jatilawang : Seni Bertengkar Sehat Tanpa Kehilangan Cinta
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Tidak ada rumah tangga yang selalu berjalan tanpa perbedaan. Dua manusia yang tumbuh dari keluarga, kebiasaan, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda tentu sesekali akan memiliki pandangan yang tidak sama. Namun, perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah suami dan istri belajar memahami, mengalah, dan semakin dewasa dalam mencintai. Jumat (02/10)
Pesan tersebut disampaikan Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama KUA Kecamatan Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Nur Khasan dan Yulvina Almaidah. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat materi “Bertengkar dengan Sehat Tanpa Kehilangan Cinta” sebagai salah satu bekal penting bagi pasangan yang akan memasuki kehidupan rumah tangga.
Muhammad Asyhadi menjelaskan bahwa konflik dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Perbedaan pendapat mengenai pekerjaan, keuangan, keluarga besar, pengasuhan anak, pembagian tugas, maupun persoalan sehari-hari dapat muncul dalam perjalanan kehidupan bersama.
Yang perlu dipelajari pasangan bukan bagaimana membuat rumah tangga bebas dari konflik, melainkan bagaimana menghadapi konflik tanpa menghancurkan hubungan.
Dalam bimbingannya, Nur Khasan dan Yulvina diajak memahami bahwa bertengkar tidak boleh berubah menjadi ajang untuk saling merendahkan. Ketika emosi meningkat, pasangan perlu menjaga lisan, menghindari kata-kata yang melukai, tidak membuka kembali kesalahan masa lalu, serta tidak menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata untuk memenangkan perdebatan.
“Jangan jadikan pertengkaran sebagai perlombaan untuk menentukan siapa yang menang. Dalam rumah tangga, ketika salah satu merasa menang sementara yang lain merasa hancur, sesungguhnya keduanya sedang kehilangan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam bimbingan tersebut.
Muhammad Asyhadi juga mengingatkan pentingnya membedakan antara persoalan dan pribadi pasangan. Ketika terjadi masalah, yang seharusnya diselesaikan adalah persoalannya, bukan menyerang karakter atau harga diri pasangan.
Suami dan istri perlu belajar menggunakan kalimat yang mengungkapkan perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh juga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan konflik. Tidak semua masalah harus dijawab dengan nasihat; terkadang pasangan hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk di sampingnya dan berkata, “Aku mendengarkan.”
Bimbingan tersebut juga menekankan pentingnya memilih waktu yang tepat untuk menyelesaikan persoalan. Ketika emosi sedang memuncak, mengambil jeda sejenak dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana daripada terus berbicara hingga keluar kata-kata yang kelak disesali.
Namun, jeda bukan berarti menghindar. Setelah suasana hati lebih tenang, pasangan perlu kembali membicarakan persoalan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.
Dalam kehidupan rumah tangga, permintaan maaf juga bukan tanda kekalahan. Mengucapkan maaf membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri sendiri tidak selalu benar. Demikian pula memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan tidak pernah terjadi, tetapi memilih untuk tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai luka yang terus dibawa sepanjang perjalanan.
Muhammad Asyhadi mengajak Nur Khasan dan Yulvina membangun kebiasaan untuk kembali saling mendekat setelah konflik. Jangan membiarkan masalah kecil berubah menjadi tembok besar hanya karena tidak ada yang bersedia memulai percakapan.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan sebuah rumah tangga bukan jawaban yang sempurna, melainkan satu kalimat sederhana: “Mari kita selesaikan bersama.”
Dalam perspektif keluarga sakinah, konflik dapat menjadi ruang belajar bagi pasangan untuk memahami karakter masing-masing. Dari sana, suami dan istri dapat mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, kapan harus mengalah, dan kapan harus saling menguatkan.
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti berkurangnya cinta. Justru cara pasangan menghadapi perbedaan menunjukkan seberapa besar mereka menghargai hubungan yang sedang dibangun.
Melalui Bimbingan Perkawinan ini, Nur Khasan dan Yulvina diharapkan memiliki kesiapan untuk menghadapi dinamika rumah tangga secara lebih dewasa. Pernikahan bukan janji bahwa kehidupan akan selalu mudah, tetapi komitmen untuk tetap mencari jalan bersama ketika kehidupan menjadi sulit.
Pada akhirnya, rumah tangga bukan tempat dua manusia sempurna bertemu. Rumah tangga adalah tempat dua manusia dengan segala kekurangan belajar menjadi lebih baik bersama-sama.
Akan ada hari ketika suara meninggi, ada air mata yang jatuh, dan ada hati yang terluka. Namun, jangan biarkan satu pertengkaran menghapus ribuan alasan untuk mencintai. Jika emosi membuat tangan ingin menjauh, biarkan kesadaran mengajarkan tangan itu untuk kembali menggenggam. Jika kata-kata sempat melukai, biarkan kasih sayang belajar menyembuhkan.
Karena dalam pernikahan, tujuan akhirnya bukan menjadi pasangan yang tidak pernah bertengkar, melainkan menjadi pasangan yang setelah bertengkar tetap memilih untuk saling pulang, saling memaafkan, dan tetap berjalan bersama menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
