HUT RI #81

KUA Jatilawang Bimbing Catin Cara Kelola Nafkah Demi Jaga Keharmonisan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum dua manusia mengucapkan janji untuk hidup bersama. Bukan hanya pakaian pengantin, tempat berlangsungnya akad, atau daftar tamu yang perlu dipikirkan. Jauh lebih penting dari semuanya adalah kesiapan hati untuk menjalani hari-hari ketika rezeki datang dengan lapang, maupun ketika kehidupan mengajarkan arti kesabaran melalui keterbatasan. Jumat (02/10)

Pesan tersebut disampaikan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Anom Suroto dan Desty Yuliana dengan materi “Mengelola Rezeki, Menjaga Keharmonisan.”

Dalam bimbingannya, Rais Rudiansyah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehidupan rumah tangga bukan sekadar tentang seberapa banyak rezeki yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana pasangan suami istri mampu mengelola, mensyukuri, dan menggunakan rezeki tersebut secara bertanggung jawab.

Menurutnya, persoalan ekonomi dalam keluarga perlu dibicarakan secara terbuka sejak awal. Suami dan istri perlu memiliki kesepahaman mengenai kebutuhan rumah tangga, prioritas pengeluaran, tabungan, serta rencana masa depan. Dengan komunikasi yang sehat, persoalan keuangan diharapkan tidak berkembang menjadi sumber konflik.

“Rezeki dalam rumah tangga bukan hanya soal banyaknya penghasilan. Ada kesehatan, ketenangan, pasangan yang setia, dan keluarga yang saling menguatkan. Karena itu, rezeki perlu disyukuri sekaligus dikelola dengan amanah,” ujar Rais Rudiansyah.

Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan bermusyawarah. Setiap keputusan yang menyangkut kebutuhan keluarga sebaiknya dibicarakan bersama, sehingga tidak ada pihak yang merasa berjalan sendirian dalam memikul tanggung jawab rumah tangga.

Sebab, kehidupan setelah pernikahan tidak selalu berjalan sebagaimana yang dibayangkan. Ada masa ketika penghasilan meningkat, tetapi ada pula saat kebutuhan datang bersamaan. Ada hari ketika meja makan dipenuhi hidangan, tetapi mungkin ada waktu ketika pasangan harus belajar mencukupkan apa yang tersedia.

Dalam keadaan seperti itu, keharmonisan bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang bersedia tetap menggenggam tangan pasangannya.

Rais Rudiansyah juga mengingatkan agar suami dan istri tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan untuk saling merendahkan. Perbedaan penghasilan, pekerjaan, maupun kemampuan ekonomi hendaknya tidak mengurangi penghargaan terhadap pasangan.

“Jangan ukur harga diri pasangan dari jumlah uang yang dibawa pulang. Setiap orang memiliki perjuangan yang mungkin tidak selalu terlihat. Hargai proses, hargai usaha, dan jangan lelah untuk saling menguatkan,” pesannya.

Bimwin tersebut menjadi kesempatan bagi Anom dan Desty untuk memandang kehidupan pernikahan secara lebih utuh. Pernikahan bukan hanya tentang hari ketika akad diucapkan, tetapi tentang ribuan hari setelahnya ketika janji itu harus dibuktikan dalam kehidupan nyata.

Setelah para tamu pulang, setelah bunga-bunga pernikahan layu, dan setelah foto-foto bahagia tersimpan dalam album, kehidupan sebenarnya akan dimulai. Di sanalah pasangan suami istri akan belajar bahwa cinta membutuhkan kesabaran, rezeki membutuhkan pengelolaan, dan rumah tangga membutuhkan perjuangan bersama.

Kadang-kadang, kebahagiaan tidak hadir dalam rumah yang berlimpah harta. Ia justru tumbuh dari percakapan sederhana di penghujung malam.

“Maaf, hari ini belum bisa memberikan banyak.”

Lalu pasangan menjawab dengan senyum,

“Tidak apa-apa. Kita jalani bersama.”

Kalimat sederhana semacam itu mungkin tidak pernah masuk dalam album pernikahan. Namun, bisa jadi justru itulah salah satu bentuk cinta yang paling tulus.

Sebab pada akhirnya, rumah tangga bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak-banyaknya, melainkan perjalanan untuk belajar mencukupkan hati. Rezeki boleh datang silih berganti, keadaan boleh berubah dari waktu ke waktu, tetapi selama suami dan istri masih memilih untuk saling menghargai, saling menguatkan, dan bersyukur bersama, selalu ada alasan untuk menjaga rumah itu tetap menjadi tempat pulang.

Mengelola rezeki adalah bentuk tanggung jawab. Menjaga keharmonisan adalah bentuk kasih sayang. Dan ketika keduanya dipadukan dengan rasa syukur, rumah tangga akan memiliki kekuatan untuk melewati bukan hanya hari-hari yang indah, tetapi juga setiap badai yang datang menguji.