HUT RI #81

Bimwin Siapkan Masa Depan Anak, Tanam Harapan Sejak Sebelum Mereka Hadir

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Setiap pasangan yang melangkah menuju pernikahan tentu menyimpan harapan tentang hari esok. Ada rumah yang ingin dibangun, ada kehidupan yang ingin ditata, dan suatu hari nanti, mungkin ada anak-anak yang akan hadir membawa tawa sekaligus amanah yang begitu besar. Rabu (30/09)

Kesadaran itulah yang menjadi bagian penting dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kepada Calon Pengantin (Catin) Budi Setiawan dan Ani Latifah dengan materi “Menyiapkan Masa Depan Anak bagi Suami Istri.”

Dalam bimbingan tersebut, Dwi Astuti mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa mempersiapkan masa depan anak bukanlah sesuatu yang baru dimulai ketika seorang anak telah lahir. Persiapan itu dapat dimulai sejak pasangan suami istri membangun rumah tangga dengan penuh kesadaran, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Menurut Dwi, anak kelak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan perhatian, pendidikan, keteladanan, kasih sayang, serta lingkungan keluarga yang aman dan penuh penghormatan.

Karena itu, suami dan istri perlu membangun komunikasi yang baik serta menyepakati pola pengasuhan sejak awal. Perbedaan pandangan dalam keluarga hendaknya tidak menjadi sumber pertengkaran yang terus-menerus, melainkan menjadi ruang untuk belajar memahami satu sama lain.

“Mempersiapkan masa depan anak bukan hanya menyiapkan tabungan. Yang paling utama adalah menyiapkan rumah sebagai tempat pertama seorang anak belajar tentang cinta, akhlak, tanggung jawab, dan kehidupan,” pesan Dwi Astuti dalam bimbingannya.

Budi Setiawan dan Ani Latifah mengikuti materi dengan penuh perhatian. Bagi keduanya, pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan dua orang, tetapi juga tentang amanah besar yang mungkin kelak dipercayakan Allah SWT kepada mereka.

Seorang anak mungkin belum hadir di depan mata, tetapi masa depannya sudah dapat dipersiapkan sejak sekarang.

Dari cara ayah dan ibu berbicara, seorang anak kelak belajar bagaimana menghormati sesama. Dari cara kedua orang tuanya menyelesaikan masalah, ia belajar arti kesabaran. Dari pelukan yang tulus, ia mengenal rasa aman. Dan dari keteladanan yang setiap hari ia saksikan, ia belajar menjadi manusia.

Karena itu, keluarga menjadi sekolah pertama bagi seorang anak. Sebelum mengenal huruf dan angka di ruang kelas, seorang anak terlebih dahulu membaca wajah kedua orang tuanya. Sebelum memahami arti kasih sayang dari buku, ia merasakannya dari rumah.

Bimwin yang diberikan Dwi Astuti pun tidak sekadar menjadi penyampaian materi, tetapi menjadi ruang refleksi bagi calon pasangan suami istri untuk memandang kehidupan rumah tangga secara lebih jauh.

Masa depan anak tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari kebiasaan kecil: menyisihkan penghasilan untuk pendidikan, menjaga kesehatan keluarga, membangun komunikasi yang sehat, memberikan waktu kepada anak, serta menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab tidak ada anak yang memilih dilahirkan dari keluarga seperti apa. Namun setiap orang tua memiliki kesempatan untuk berusaha menciptakan rumah yang membuat anak merasa dicintai, dihargai, dan diterima.

Pada akhirnya, anak bukanlah sekadar penerus nama keluarga. Mereka adalah amanah dan titipan kehidupan yang suatu hari akan tumbuh menjadi manusia dengan jalan hidupnya sendiri.

Maka sebelum seorang anak meminta masa depan yang baik, orang tua perlu terlebih dahulu menyiapkan rumah yang baik untuk tempat masa depan itu tumbuh.

Dari sebuah rumah yang sederhana, bisa lahir mimpi yang luar biasa. Dari sepasang suami istri yang saling menguatkan, bisa tumbuh generasi yang membawa kebaikan bagi banyak orang.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Budi dan Ani melihat anak mereka tumbuh dengan mata yang berbinar, mereka akan menyadari bahwa segala persiapan, pengorbanan, doa, dan kasih sayang yang diberikan sejak awal bukanlah sesuatu yang sia-sia.

Sebab setiap tetes cinta yang ditanam orang tua hari ini, semoga kelak tumbuh menjadi teduh yang menaungi anak-anak mereka sepanjang perjalanan kehidupan.