Cahaya Taubat Warga Binaan Dibalik Jeruji Lapas Narkotika Purwokerto
Banyumas — Dalam suasana Ramadhan yang penuh keberkahan, seberkas cahaya harapan menyinari ruang hati para warga binaan di Lapas Narkotika Purwokerto. Di balik dinding-dinding tinggi yang selama ini menjadi saksi perjalanan kelam kehidupan, Pengajian Ramadhan yang digelar di Masjid Lapas tersebut diisi oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang. Dengan suara yang tenang namun sarat makna, ia menyampaikan materi tentang Taubat Nasuha, mengajak para warga binaan untuk menapaki kembali jalan pulang menuju ridha Allah SWT. Senin (9/3)
Dalam tausiyahnya, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa pintu taubat tidak pernah tertutup bagi siapa pun, selama napas masih berhembus dan hati masih mampu menyesali dosa.
“Tidak ada manusia yang sepenuhnya bersih dari kesalahan. Namun yang membedakan kemuliaan seseorang adalah keberaniannya untuk kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh,” tuturnya di hadapan para warga binaan yang mengikuti pengajian dengan khidmat.
Ia kemudian mengisahkan perjalanan hidup salah satu sahabat agung Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab. Dahulu dikenal sebagai sosok yang keras dan bahkan menjadi penentang dakwah Islam, namun ketika hidayah Allah menyentuh hatinya, Umar berubah menjadi salah satu pembela Islam paling besar dalam sejarah.
“Jika Umar yang dahulu memusuhi Nabi bisa menjadi manusia yang begitu mulia setelah bertaubat, maka setiap manusia juga memiliki kesempatan yang sama untuk berubah,” ungkapnya dengan penuh harap.
Tak hanya itu, Muhammad Taubah juga mengangkat teladan dari tokoh dakwah Nusantara, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang dikenal luas karena perjalanan hidupnya yang penuh liku sebelum akhirnya menjadi ulama besar penyebar Islam di tanah Jawa.
Menurutnya, kisah Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa perjalanan menuju kebaikan sering kali dimulai dari kesadaran akan kesalahan masa lalu. Dari seorang perampok yang hidup dalam kegelapan, ia berubah menjadi ulama yang menerangi masyarakat dengan dakwah yang penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.
Suasana pengajian pun terasa begitu menggetarkan. Beberapa warga binaan tampak menundukkan kepala, meneteskan air mata ketika kisah-kisah perubahan itu disampaikan. Ramadhan seakan menjadi jembatan harapan bagi mereka untuk memulai hidup baru.
Petugas Lapas menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi mental dan spiritual warga binaan.
“Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menumbuhkan kesadaran dan memperkuat niat memperbaiki diri. Kami berharap setelah bebas nanti, mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” ujar salah seorang petugas.
Pengajian tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.
Di balik jeruji yang sunyi itu, malam Ramadhan terasa berbeda. Air mata yang jatuh bukan lagi air mata penyesalan semata, tetapi juga air mata harapan—bahwa setiap manusia, betapapun gelap masa lalunya, selalu memiliki kesempatan untuk kembali menjadi hamba yang dicintai Tuhannya.
