Cinta Butuh Keterbukaan, Bimwin Kepala KUA Jatilawang Kepada Catin
Jatilawang — Pernikahan bukan hanya tentang dua hati yang saling memilih, melainkan tentang dua manusia yang bersedia saling mengenal, memahami, dan menerima dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Sebab, rumah tangga yang kokoh tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk berkata jujur dan kesediaan untuk saling mendengarkan. Pesan itulah yang disampaikan Iskandar Zulkarnain, Kepala KUA Jatilawang, dalam memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin bernama Adinda Putri Demonika, dengan materi tentang keengganan untuk terbuka kepada pasangan. Rabu (14/10)
Dalam bimbingan tersebut, Iskandar menekankan bahwa keterbukaan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang sehat. Kebiasaan menyimpan perasaan, menutupi persoalan, atau memilih diam ketika menghadapi masalah dapat menimbulkan kesalahpahaman. Jika dibiarkan berlarut-larut, jarak emosional bisa tumbuh di antara dua orang yang sebenarnya ingin saling mencintai.
Menurut pesan yang ditekankan dalam Bimwin itu, pasangan suami istri perlu membangun komunikasi yang jujur, santun, dan penuh empati. Keterbukaan bukan berarti harus mengungkapkan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan pasangan, melainkan belajar menyampaikan pikiran, kebutuhan, kekhawatiran, dan harapan dengan cara yang baik.
Adinda diajak memahami bahwa pernikahan bukan tempat untuk berpura-pura selalu kuat. Ada kalanya seseorang merasa lelah, takut, kecewa, atau membutuhkan pertolongan. Dalam keadaan seperti itu, pasangan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berbagi, bukan sosok yang membuat seseorang semakin takut untuk bercerita.
Iskandar juga mengingatkan pentingnya mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika pasangan berani menyampaikan isi hatinya, tanggapan yang penuh penghargaan dapat menumbuhkan rasa percaya. Sebaliknya, ucapan yang merendahkan atau kebiasaan mengungkit kesalahan masa lalu dapat membuat seseorang memilih kembali diam.
Keterbukaan pun perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kejujuran tentang keadaan ekonomi, persoalan keluarga, kebutuhan emosional, dan keputusan penting akan membantu pasangan menyusun langkah bersama. Rumah tangga bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling benar, melainkan perjalanan untuk mencari jalan keluar tanpa menjadikan pasangan sebagai lawan.
Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Jatilawang berupaya membekali calon pengantin dengan pemahaman bahwa kehidupan setelah akad membutuhkan komitmen yang terus dirawat. Cinta memang dapat menjadi alasan dua orang memulai perjalanan, tetapi komunikasi, kepercayaan, kesabaran, dan keterbukaanlah yang membantu mereka bertahan ketika perjalanan tidak selalu mudah.
Pada akhirnya, ada kesedihan yang tidak terlihat ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak lagi berani menceritakan isi hatinya. Mereka duduk berdekatan, namun menyimpan jarak yang tak kasatmata. Karena itu, jangan biarkan diam menjadi tembok yang memisahkan dua hati yang pernah berjanji untuk bersama.
Sebab, pasangan tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna. Terkadang, ia hanya membutuhkan keberanian kita untuk berkata jujur, telinga yang bersedia mendengarkan, dan hati yang tidak pergi ketika mengetahui kenyataan. Dalam rumah tangga, keterbukaan bukan sekadar kata-kata—ia adalah cara sederhana untuk mengatakan, “Aku percaya kepadamu, dan aku ingin kita menghadapi kehidupan ini bersama.”
