Cinta, Kesabaran, Pengorbanan, Dan Tanggung Jawab Dalam Rumah Tangga
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang sering menguji ketahanan rumah tangga, upaya menanamkan nilai-nilai keluarga yang harmonis terus dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Salah satunya tampak dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan oleh Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kepada dua pasang calon pengantin (catin) dengan materi tentang membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Selasa (05/05/26)
Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya membahas persiapan pernikahan secara formal, tetapi juga menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia: tentang cinta, kesabaran, pengorbanan, dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga.
Dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami, Muhammad Taubah mengajak para calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukan sekadar pesta dan ijab kabul, melainkan perjalanan panjang dua hati yang belajar saling menerima dalam suka maupun duka.
“Rumah tangga yang sakinah tidak lahir dari kehidupan yang selalu sempurna, tetapi dari dua insan yang mau saling menguatkan ketika ujian datang,” tutur Muhammad Taubah di hadapan peserta bimwin.
Suasana menjadi begitu haru ketika materi tentang mawaddah wa rahmah disampaikan. Para calon pengantin tampak menyimak dengan penuh perhatian, seolah sedang menata harapan-harapan kecil tentang kehidupan yang akan segera mereka jalani bersama. Di ruangan sederhana itu, bukan hanya ilmu yang dibagikan, tetapi juga doa-doa dan harapan agar setiap keluarga yang dibangun kelak menjadi tempat pulang paling nyaman bagi setiap anggotanya.
Muhammad Taubah juga menekankan pentingnya komunikasi, saling menghormati, serta menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan rumah tangga. Ia mengingatkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang kebahagiaan di awal pertemuan, tetapi tentang kesediaan untuk tetap bertahan dan saling menggenggam ketika kehidupan tidak selalu berjalan mudah.
Bimbingan perkawinan tersebut menjadi bukti nyata bahwa KUA hadir bukan hanya untuk mencatat akad nikah, tetapi juga mempersiapkan pasangan agar mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan pondasi yang kuat. Melalui sentuhan pembinaan yang humanis dan penuh empati, para calon pengantin dibekali bukan hanya pengetahuan, melainkan juga keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan berkeluarga.
Di akhir kegiatan, suasana terasa penuh kehangatan. Senyum para calon pengantin tampak berbeda—lebih tenang, lebih mantap, dan lebih penuh harapan. Dari ruang kecil di KUA Jatilawang itu, lahir doa-doa sederhana agar rumah tangga yang akan mereka bangun kelak benar-benar menjadi taman kasih sayang, tempat cinta tumbuh bersama keimanan, serta pelabuhan teduh bagi hati yang ingin pulang.
Hari itu, Muhammad Taubah tidak sekadar memberikan materi bimwin. Ia sedang menanam benih-benih kebijaksanaan, agar kelak lahir keluarga-keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang mampu menghadirkan cinta, kedamaian, dan keberkahan di tengah masyarakat.
