HUT RI #81

Danramil Ajak Penyuluh KUA Jatilawang Tanamkan Cinta NKRI dan Tangkal Radikalisme

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
23 Okt 2026
3x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 23-10-2026 19:12
SHARE

Jatilawang – Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan semata-mata tugas aparat keamanan. Ia adalah tanggung jawab bersama, yang harus dirawat melalui pendidikan, keteladanan, dan dakwah yang menyejukkan hati. Dari mimbar-mimbar Majelis Taklim, semangat cinta Tanah Air diharapkan tumbuh menjadi kesadaran yang mengakar dalam jiwa masyarakat. Jumat (23/10)

Harapan itulah yang disampaikan Danramil Jatilawang kepada para Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Ia berharap materi-materi penyuluhan yang disampaikan kepada jamaah Majelis Taklim tidak hanya membahas persoalan ibadah dan kehidupan keagamaan, tetapi juga menyisipkan pesan kebangsaan, penguatan komitmen terhadap NKRI, serta pencegahan paham radikalisme.

Menurutnya, para penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan masyarakat. Kedekatan mereka dengan umat menjadikan setiap nasihat, pengajian, dan dialog keagamaan sebagai ruang penting untuk menanamkan nilai toleransi, persaudaraan, cinta Tanah Air, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, agama semestinya menjadi sumber kedamaian, bukan alasan untuk menumbuhkan permusuhan. Karena itu, pesan-pesan kebangsaan perlu hadir secara bijaksana dalam dakwah, tanpa mengurangi kedalaman ajaran agama yang disampaikan.

Para Penyuluh Agama Islam diharapkan mampu menjelaskan bahwa mencintai Tanah Air, menjaga persatuan, menghormati sesama warga negara, dan menolak kekerasan merupakan bagian penting dari ikhtiar membangun kehidupan bersama yang bermartabat.

Pencegahan radikalisme pun tidak cukup dilakukan dengan larangan dan peringatan. Ia membutuhkan pendekatan yang menyentuh akar persoalan: pendidikan keagamaan yang moderat, dialog yang terbuka, keteladanan yang nyata, serta pendampingan masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian, jamaah tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga memiliki kemampuan menyaring informasi dan mengenali ajakan yang mengarah pada kebencian maupun kekerasan.

Majelis Taklim yang selama ini menjadi tempat masyarakat menimba ilmu dan menguatkan iman dapat sekaligus menjadi ruang persemaian nilai-nilai kebangsaan. Dari pengajian sederhana di kampung-kampung, pesan tentang persatuan dapat tumbuh, menjalar dari satu hati ke hati lainnya, hingga menjadi kekuatan sosial yang menjaga kerukunan.

Harapan Danramil Jatilawang tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia tidak selalu harus dimulai dari langkah-langkah besar. Terkadang, ia berawal dari satu kalimat bijak seorang penyuluh, dari nasihat seorang ustaz di hadapan jamaah, atau dari kesediaan seseorang untuk menghormati tetangganya yang berbeda pandangan.

Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan masyarakat yang taat beribadah, tetapi juga warga yang mampu menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai sumber kasih sayang, keadilan, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama.

Bagi para Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, harapan tersebut merupakan panggilan pengabdian yang bermakna. Setiap materi penyuluhan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab kebangsaan. Setiap majelis ilmu dapat menjadi tempat tumbuhnya kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, dan keyakinan bukan pembenaran untuk menyakiti orang lain.

Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya dijaga oleh kokohnya pertahanan dan kuatnya aparat keamanan. Indonesia juga dijaga oleh hati-hati yang memilih damai, lisan-lisan yang menebarkan kesejukan, serta tangan-tangan yang bersedia merawat persaudaraan.

Sebab, ketika agama mengajarkan kasih sayang dan kebangsaan menumbuhkan persatuan, keduanya bertemu dalam satu tujuan mulia: menjaga Indonesia tetap utuh, damai, dan menjadi rumah yang aman bagi seluruh anak bangsa.