Dibalik Kesuksesan Suami, Ada Doa Seorang Istri

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Suasana hangat yang menyelimuti pertemuan Dharma Wanita Persatuan (DWP) diwarnai dengan siraman rohani yang menyejukkan jiwa. Pada kesempatan tersebut, Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) yang mengangkat tema "Peran Seorang Istri dalam Karier Suami", sebuah materi sederhana namun sarat makna yang mampu menyentuh relung hati para peserta. Jumat (03/07)

Dengan tutur kata yang lembut, penuh hikmah, dan mudah dipahami, Muhammad Asyhadi mengajak seluruh peserta untuk merenungkan kembali betapa besar peran seorang istri dalam perjalanan hidup dan pengabdian seorang suami. Menurutnya, keberhasilan seorang laki-laki sering kali tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kerja kerasnya, tetapi juga oleh doa yang tak pernah putus, kesabaran yang tak pernah lelah, serta keikhlasan seorang istri yang setia mendampingi dalam setiap keadaan.

"Istri bukan sekadar pendamping hidup, tetapi juga sahabat terbaik, penyemangat di saat lemah, pengingat ketika lalai, dan tempat pulang yang menghadirkan ketenangan," ungkapnya di hadapan peserta yang mengikuti kultum dengan penuh perhatian.

Pesan-pesan yang disampaikan mengalir begitu hangat, menghadirkan suasana yang hening sekaligus mengharukan. Banyak peserta tampak larut dalam perenungan ketika disampaikan bahwa tidak sedikit keberhasilan seorang suami yang sesungguhnya dibangun dari pengorbanan yang tidak pernah terlihat. Ada doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, ada air mata yang disembunyikan demi menjaga semangat keluarga, dan ada keikhlasan yang tidak pernah meminta balasan selain ridha Allah SWT.

Muhammad Asyhadi juga mengingatkan bahwa keluarga yang harmonis merupakan fondasi utama lahirnya aparatur negara yang berintegritas dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Ketika rumah dipenuhi kasih sayang, saling menghargai, dan komunikasi yang baik, maka semangat bekerja pun akan tumbuh dengan lebih kuat dan penuh keikhlasan.

Kultum tersebut tidak hanya memberikan penguatan spiritual, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam karier bukanlah hasil perjuangan seorang diri. Di balik setiap langkah yang mantap, ada keluarga yang senantiasa menjadi sumber kekuatan. Di balik setiap capaian yang diraih, ada doa-doa yang melangit dari seseorang yang mungkin tidak pernah berdiri di atas panggung penghargaan, tetapi selalu hadir di dalam setiap sujudnya.

Kegiatan Dharma Wanita Persatuan hari itu pun terasa lebih bermakna. Bukan semata karena agenda organisasi yang terlaksana dengan baik, melainkan karena setiap peserta pulang membawa pesan yang mengendap di dalam hati: bahwa cinta yang diwujudkan melalui doa, kesabaran, dan ketulusan adalah kekuatan yang mampu mengantarkan sebuah keluarga menuju keberkahan.

Di penghujung kultum, suasana berubah menjadi begitu syahdu. Senyum yang mengembang berpadu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Semua menyadari bahwa jabatan dapat berganti, tempat tugas dapat berpindah, dan perjalanan hidup akan terus berubah. Namun, kasih sayang dalam keluarga serta doa seorang istri yang tulus akan selalu menjadi cahaya yang menerangi setiap langkah pengabdian.

Dari ruang sederhana Dharma Wanita Persatuan, tersampaikan sebuah pelajaran yang akan selalu dikenang: di balik setiap suami yang tegar menghadapi tantangan, sering kali ada seorang istri yang diam-diam menguatkannya dengan doa, cinta, dan pengorbanan yang tak pernah meminta untuk dipuji. Itulah bentuk pengabdian yang sunyi, tetapi nilainya begitu agung di hadapan manusia maupun di sisi Allah SWT.