Takdir Tak Pernah Datang Terlambat

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Cinta tidak mengenal batas usia. Ia dapat bersemi di masa muda, tumbuh di tengah perjalanan hidup, bahkan hadir ketika rambut telah memutih dan langkah tak lagi secepat dahulu. Pesan itulah yang terasa begitu kuat saat Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin (catin) lansia, Waslim dan Saniah, dengan mengangkat tema "Takdir di Masa Tua." Jumat (03/07)

Kegiatan bimbingan berlangsung dalam suasana hangat, penuh penghormatan, dan sarat makna. Dengan tutur kata yang lembut dan penuh hikmah, Dwi Astuti mengajak kedua calon mempelai untuk memandang pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan bagian dari ketetapan Allah SWT yang selalu datang pada waktu terbaik menurut-Nya.

Dalam penyampaiannya, Dwi Astuti menuturkan bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Ada yang dipertemukan dengan jodohnya sejak muda, ada yang harus menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya menemukan teman hidup di penghujung usia. Namun, semua itu merupakan bagian dari takdir yang mengandung hikmah dan kasih sayang Tuhan.

"Usia bukanlah ukuran indahnya sebuah pernikahan. Yang terpenting adalah kesiapan hati untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah hingga akhir kehidupan," tutur Dwi Astuti, menghadirkan suasana yang hening dan penuh perenungan.

Materi bimbingan juga menekankan pentingnya membangun rumah tangga yang dilandasi kasih sayang, saling menghormati, komunikasi yang baik, serta keikhlasan menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada usia senja, pernikahan bukan lagi tentang mengejar kemewahan dunia, melainkan menghadirkan ketenangan jiwa, saling menemani dalam ibadah, serta menjadi sahabat terbaik hingga akhir hayat.

Waslim dan Saniah mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian. Tatapan mata keduanya memancarkan harapan yang sederhana, namun begitu mendalam. Bukan lagi tentang pesta yang megah atau kemeriahan resepsi, melainkan tentang menemukan seseorang yang bersedia menggenggam tangan ketika usia semakin renta, menjadi tempat berbagi doa, dan menemani langkah menuju ridha Ilahi.

Suasana bimbingan menjadi semakin mengharukan ketika Dwi Astuti mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk membangun keluarga yang diridhai Allah. Setiap insan berhak memperoleh kesempatan untuk merasakan hangatnya kasih sayang dalam ikatan pernikahan yang sah dan penuh keberkahan. Takdir yang datang di penghujung usia bukanlah keterlambatan, melainkan jawaban atas doa yang mungkin telah lama dipanjatkan dengan penuh kesabaran.

Bimbingan Perkawinan yang diselenggarakan KUA Kecamatan Jatilawang tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak hanya berorientasi pada aspek administrasi, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan kemanusiaan. Melalui pendampingan yang tulus, KUA hadir untuk menguatkan setiap calon pengantin agar memasuki kehidupan rumah tangga dengan bekal ilmu, keyakinan, dan kesiapan hati.

Di akhir pertemuan, senyum Waslim dan Saniah tampak menyimpan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bagi mereka, perjalanan hidup mungkin telah melewati banyak musim, tetapi cinta yang dipertemukan oleh takdir tetap mampu menghadirkan harapan baru.

Dari ruang bimbingan yang sederhana itu, lahirlah pelajaran yang begitu menyentuh: Tuhan tidak pernah terlambat mempertemukan dua hati. Ketika waktu-Nya tiba, cinta akan datang sebagai anugerah, menjadi teman di senja usia, penguat dalam ibadah, dan pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan ditentukan oleh kapan kita bertemu, melainkan oleh ketulusan hati dalam menjalaninya hingga akhir kehidupan.