HUT RI #81

Entas Buta Aksara Al-Quran, Penyuluh Beri Bimbingan bagi Jamaah di Pelosok Cihonje

HUMAS
HUMAS
02 Feb 2026
45x dibaca
SHARE

Banyumas – Upaya pemberdayaan masyarakat di bidang keagamaan terus diperkuat hingga ke wilayah pelosok. Langkah krusial ini diambil oleh Kambali, Penyuluh Agama Islam KUA Gumelar, melalui program pemberantasan buta aksara Al-Qur'an bagi jamaah Majelis Taklim (MT) Al Ikhlas, Kadus 4 Desa Cihonje. Senin (02/02)

Program ini bukan sekadar kegiatan belajar membaca huruf hijaiyah, melainkan pintu gerbang bagi jamaah untuk memahami nilai-nilai spiritual secara mandiri. Dengan kemampuan membaca yang baik, jamaah diharapkan dapat mendalami isi kandungan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.

Dalam pelaksanaannya, bimbingan penyuluhan yang dipimpin oleh Kambali ini memiliki beberapa fokus utama, salah satunya adalah penerapan metodologi pembelajaran yang bersifat aplikatif bagi orang dewasa atau andragogi. Dengan menggunakan metode seperti Iqra atau Al-Banjari, jamaah diharapkan dapat lebih cepat memahami teknis makhraj dan tajwid secara efektif. Selain itu, pendekatan personal menjadi kunci keberhasilan program ini, di mana penyuluhan dilakukan dengan kesabaran ekstra dalam suasana yang guyub atau akrab agar setiap jamaah merasa nyaman dan tidak canggung saat proses belajar berlangsung.

Tak hanya terpaku pada aspek teknis, bimbingan ini juga memberikan porsi besar pada penguatan spiritual bagi para jamaah Majelis Taklim Al Ikhlas. Di sela-sela bimbingan makhraj dan tajwid, Kambali secara rutin menyelipkan pesan mengenai urgensi membaca Al-Qur'an sebagai sumber ketenangan batin dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi antara teknik membaca yang benar dan pemahaman nilai spiritual, program ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ibadah serta literasi keagamaan masyarakat di wilayah Desa Cihonje.

Hadirnya program ini membawa dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Desa Cihonje, khususnya di wilayah Kadus 4. Selain meningkatkan literasi keagamaan dan mengurangi angka buta aksara hijaiyah, kegiatan ini membangun kemandirian ibadah sehingga jamaah lebih percaya diri saat melaksanakan tadarus.

Kehadiran penyuluh di wilayah dusun ini juga menjadi bukti nyata aktifnya fungsi KUA dalam memberikan pelayanan "jemput bola" bagi masyarakat. Konsistensi pendampingan menjadi kunci utama, mengingat kegiatan rutin ini sering kali berkembang menjadi wadah konsultasi masalah keagamaan yang lebih luas bagi warga setempat.