FKPAI Selalu Siap Dalam Segala Keadaan; Rashdul Qiblat Saat Hujan Turun

Oleh KUA baturraden
SHARE

Baturraden – Kamis 27 Mei 2021 pukul 16.18 WIB merupakan saat yang istimewa bagi umat Islam. Sebab di waktu tersebut ada peristiwa yang dapat menyempurnakan kualitas ibadah sholat, yakni azimuth arah kiblat suatu tempat ibadah akan terverifikasi akurasinya.

Roshdul Qiblat; sebuah fenomena alam di mana matahari berada tepat di atas Ka’bah, qiblat umat Islam di seluruh dunia. Hal ini disebabkan lintang Ka’bah sama dengan deklinasi Matahari. Pada saat itu Matahari berkulminasi tepat di atas Ka’bah. Sehingga, arah jatuhnya bayangan benda yang terkena cahaya matahari adalah arah qiblat.

Kamis sore rombongan FKPAI bersama Kepala KUA Baturraden, Muson, S.H.I. berbondong-bondong menuju Masjid Baru Desa Kemutug Kidul Kecamatan Baturraden. Dinamakan Masjid Baru karena masjid baru dibangun dan belum memiliki nama. Rombongan ini bermaksud memanfaatkan roshdul qiblat untuk mengecek ulang arah qiblat dari masjid tersebut.

Baru saja rombongan memarkirkan sepeda motornya masing-masing, hujan turun dengan sangat deras. Padahal masih ada cahaya matahari. Saat itu sekitar pukul 15.55 WIB. Rombongan dan pihak Takmir pun menunggu hujan reda. Namun, hingga waktu rashdul qiblat tiba, hujan tetap saja turun dengan derasnya.

“Ini sepertinya hujan belum mau reda,” kata Mushon, S.H.I. saat memberikan sambutan pembukaan. “Jika seperti ini terus, mohon dari penyuluh agama menjelaskan teknisnya supaya besok pihak Takmir bisa melakukannya. Kan besok masih ada ya?” katanya memberikan instruksi kepada FKPAI Baturraden.

Langsung saja setelah beliau selesai memberikan sambutan. Tim dari FKPAI Baturraden menjelaskan tata cara menentukan arah qiblat dengan metode rashdul qiblat.

“Pastikan bandulannya tidak bergerak. Betul-betul tenang. Barulah bayangan benangnya digaris menggunakan spidol. Nah, inilah arah qiblatnya” kata Fathur menjelaskan. “Lalu disiku menggunakan kertas hvs ini sebagai garis atau shaf sholat” imbuhnya.

Selesai menjelaskan, dari pada tidak mendapatkan hasil yang berarti, FKPAI berinisiatif mengukur qiblat masjid tersebut menggunakan kompas bidik. Tentu saja meminta izin terlebih dahulu kepada Ketua Takmir, Bpk Sugeng Riyadi.

“Silakan diukur saja,” katanya mengijinkan.

Tim pun langsung melakukan pengukuran, dan ternyata ada sedikit selisih dari garis saf yang sudah ada di masjid. Kemudian membuat garis utama dan satu baris/saf untuk jamaah sebagai acuan jika pihak takmir mau membuat garis baru. (Mas Fath)