HUT RI #81

Hal-Hal yang Dapat Mengurangi Pahala Puasa Ramadan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
02 Mar 2026
36x dibaca
SHARE

Banyumas—Dalam keheningan Subuh Ramadhan yang masih diselimuti embun, Mushola Nurul Huda menjadi saksi lahirnya pesan spiritual yang menembus sekat usia, latar belakang, dan kesibukan dunia. Pada pagi yang khidmat itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, mengisi kuliah tujuh menit (kultum) Subuh dengan tema yang sederhana namun menggetarkan: menghindari hal-hal yang mengurangi pahala puasa Ramadhan. Senin (02/03)

Suara beliau mengalun tenang, tidak meninggi, namun meresap. Setiap kalimatnya terasa ditimbang dengan hati, seolah ingin memastikan pesan sampai bukan hanya ke telinga, melainkan ke relung terdalam nurani. Jamaah yang hadir—para orang tua, pemuda, hingga anak-anak—larut dalam suasana. Tak sedikit yang menunduk, bukan karena mengantuk, melainkan karena tersentuh.

Dalam kultumnya, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa, katanya, adalah perjalanan sunyi menata batin. Ada banyak hal yang, tanpa disadari, dapat menggerogoti pahala puasa: lisan yang tergelincir oleh ghibah dan dusta, pandangan yang lalai dari penjagaan, hati yang mudah tersulut amarah, serta waktu yang terbuang sia-sia dalam kesia-siaan. “Ramadhan mengajarkan kita untuk jujur pada diri sendiri,” tuturnya lirih, “karena hanya Allah yang tahu apakah puasa kita sekadar ritual, atau benar-benar ibadah.”

Kata-kata itu jatuh perlahan, seperti hujan di tanah kering. Jamaah terdiam. Di antara mereka, ada yang mengusap sudut mata. Ramadhan, yang sering berlalu begitu cepat, pagi itu seakan berhenti sejenak—memberi ruang bagi setiap jiwa untuk bercermin dan bertanya: sudah sejauh mana puasa ini memurnikan kita?

Lebih dari sekadar nasihat, kultum Subuh tersebut menjadi pengingat penuh kasih. Bahwa pahala puasa bukan hanya diraih dengan menahan diri dari yang membatalkan, tetapi dengan kesungguhan menjauhi yang mengurangi. Bahwa Ramadhan adalah undangan untuk pulang—pulang kepada akhlak, kepada kesabaran, kepada kejujuran yang sering tercecer dalam hiruk pikuk kehidupan.

Usai kultum, Subuh pun ditunaikan. Langkah jamaah meninggalkan mushola terasa berbeda—lebih pelan, lebih ringan. Ada harapan yang tumbuh diam-diam: semoga Ramadhan kali ini tak sekadar lewat, tetapi menetap dalam perilaku. Dan semoga pesan pagi itu terus bergema, menuntun hati untuk menjaga puasa—bukan hanya sampai berbuka, melainkan hingga menjadi manusia yang lebih utuh.

Di Mushola Nurul Huda, Subuh Ramadhan itu tak hanya menghadirkan cahaya fajar, tetapi juga cahaya kesadaran. Sebuah pesan kecil, disampaikan dengan tulus, yang mengajarkan kita bahwa pahala puasa adalah amanah—rapuh, berharga, dan harus dijaga dengan cinta.