Harapan di Balik Jeruji Besi: Bukti Rohmat Allah Tidak Pernah Terputus
Banyumas – Suasana khidmat menyelimuti Majelis Taklim Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Banyumas pada Selasa pagi. Puluhan warga binaan tampak tertunduk khusyuk menyimak untaian nasihat dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam yang menghadirkan narasumber penyuluh dari KUA Kemranjen. Selasa (03/02/26)
Hadir sebagai pemateri, Wafiqul Umam, Penyuluh Agama Islam KUA Kemranjen, membawa pesan kesejukan bagi para warga binaan. Mengangkat tema sentral "Jangan Pernah Berputus Asa dari Rohmat Alloh", Wafiq menekankan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, terlepas dari masa lalu yang pernah dilalui.
"Jangan pernah merasa pintu taubat tertutup. Rohmat Allah SWT itu amat luas dan tidak pernah putus bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali ke jalan yang benar," ujar Wafiqul Umam di hadapan para jamaah rutan.
Dalam pemaparannya, Wafiq menjelaskan bahwa putus asa adalah jerat godaan syaitan yang bisa menghambat proses hijrah seseorang. Ia mengajak para warga binaan untuk menjadikan masa penahanan sebagai momentum uzlah atau mengasingkan diri untuk merenung dan memperdalam ilmu agama. Menurutnya, rutan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan "pesantren" sementara untuk menempa mental dan spiritual.
"Allah tidak melihat kita di masa lalu, tapi Allah melihat bagaimana kita di akhir hayat nanti. Selama napas masih berhembus, kasih sayang-Nya selalu mengalir. Yang perlu kita lakukan adalah mengetuk pintu-Nya dengan istighfar dan perbaikan amal," tambahnya dengan nada persuasif.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin penyuluhan agama yang bekerja sama dengan Kemenag Kabupaten Banyumas. Tujuannya adalah memberikan penguatan mental bagi warga binaan agar saat bebas nanti, mereka memiliki kepercayaan diri dan akhlak yang lebih baik untuk kembali berbaur dengan masyarakat.
Salah satu warga binaan, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat tersentuh dengan materi yang disampaikan. "Tadinya saya merasa sangat berdosa dan tidak layak diampuni. Tapi mendengar penjelasan tadi, saya jadi punya semangat lagi untuk memperbaiki shalat dan belajar mengaji di sini," tuturnya.
Acara bimbingan tersebut ditutup dengan doa bersama yang berlangsung haru. Diharapkan, melalui sentuhan rohani seperti ini, rutan tidak hanya menjadi tempat menjalani sanksi hukum, tetapi juga menjadi tempat transformasi hati bagi seluruh penghuninya. (Tm)
