HUT RI #81

Jaga Kehangatan Rumah Tangga, KUA Jatilawang Gelar Bimwin

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan hanya tentang bagaimana dua insan dipertemukan dalam satu akad, tetapi tentang bagaimana keduanya terus memilih untuk saling mencintai, bahkan ketika usia mulai bertambah, keadaan berubah, dan kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Jumat (02/10)

Pesan itulah yang disampaikan Dedy Purwanto, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Kuswanto dan Karsini dengan materi “Menjaga Kehangatan Rumah Tangga.”

Dalam bimbingan tersebut, Dedy mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehangatan rumah tangga tidak selalu lahir dari kemewahan, rumah yang besar, ataupun kehidupan tanpa persoalan. Kehangatan justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang sering kali luput dihargai: sapaan ketika pulang, perhatian ketika pasangan lelah, kesediaan mendengarkan, serta kalimat sederhana yang mengatakan, “Terima kasih sudah berjuang hari ini.”

Menurut Dedy, rumah tangga adalah tempat dua manusia belajar menerima bahwa pasangan bukanlah manusia sempurna. Ada kelebihan yang patut disyukuri, tetapi ada pula kekurangan yang harus diterima dengan lapang dada. Karena itu, kehidupan berumah tangga membutuhkan kesabaran, komunikasi, saling menghormati, dan kesediaan untuk terus belajar memahami satu sama lain.

“Jangan menunggu pasangan menjadi sempurna untuk kemudian mencintainya. Belajarlah mencintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” menjadi pesan yang relevan dalam perjalanan membangun keluarga.

Kehangatan, lanjut Dedy, perlu dirawat sebagaimana seseorang merawat api kecil agar tidak padam. Api itu mungkin tidak selalu menyala besar, tetapi selama dijaga, ia tetap mampu memberikan cahaya dan kehangatan.

Begitu pula dalam rumah tangga. Perasaan cinta yang dahulu begitu kuat ketika masa pendekatan tidak boleh dibiarkan perlahan-lahan hilang setelah akad. Kesibukan bekerja, persoalan ekonomi, kehadiran anak, rutinitas rumah tangga, maupun berbagai persoalan kehidupan hendaknya tidak membuat pasangan berubah menjadi dua orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama.

Dedy juga mengingatkan pentingnya komunikasi. Banyak persoalan rumah tangga bukan bermula dari masalah yang besar, melainkan dari kata-kata yang tidak pernah disampaikan dan perasaan yang terlalu lama dipendam.

Karena itu, pasangan suami istri perlu memiliki ruang untuk berbicara dari hati ke hati. Tidak sekadar membicarakan tagihan, pekerjaan, anak, atau kebutuhan rumah, tetapi juga bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?” dan benar-benar bersedia mendengarkan jawabannya.

Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk di sampingnya dan berkata, “Aku ada di sini. Kita hadapi bersama.”

Dalam suasana bimbingan yang penuh kekeluargaan, Kuswanto dan Karsini diajak memahami bahwa pernikahan bukan perlombaan untuk mencari siapa yang paling benar. Ketika terjadi perbedaan, yang lebih penting bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan hubungan.

Dedy juga menekankan pentingnya menjaga penghormatan kepada pasangan, termasuk ketika sedang marah. Kemarahan adalah perasaan yang manusiawi, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan, menghina, atau melukai hati pasangan.

“Jangan jadikan rumah sebagai tempat pasangan merasa takut. Jadikan rumah sebagai tempat ia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri,” pesan Dedy.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Kuswanto dan Karsini memasuki kehidupan pernikahan. Sebab setelah pesta selesai, setelah para tamu pulang, setelah pakaian pengantin disimpan, kehidupan yang sesungguhnya justru dimulai.

Akan ada pagi-pagi ketika salah satu harus berangkat bekerja dalam keadaan lelah. Akan ada malam ketika persoalan terasa begitu berat. Akan ada masa ketika ekonomi tidak mudah, ketika kesehatan diuji, ketika anak membutuhkan perhatian, atau ketika keduanya memiliki pandangan yang berbeda.

Pada saat-saat seperti itulah kehangatan rumah tangga diuji.

Bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan kesediaan untuk tetap menggenggam tangan pasangan.

Bukan dengan kemewahan, tetapi dengan kesetiaan untuk tetap tinggal ketika keadaan tidak lagi semudah yang dibayangkan.

Dan bukan dengan janji bahwa kehidupan akan selalu bahagia, melainkan dengan keberanian untuk berkata, “Jika hari ini berat, kita jalani bersama.”

Bimbingan Perkawinan yang diberikan Dedy Purwanto menjadi salah satu ikhtiar untuk membekali Kuswanto dan Karsini agar tidak hanya siap melaksanakan akad, tetapi juga siap menjalani kehidupan setelah akad.

Sebab pernikahan yang indah bukanlah pernikahan tanpa air mata. Pernikahan yang indah adalah ketika air mata itu tidak dibiarkan jatuh sendirian.

Ada tangan yang mengusap.

Ada bahu yang menjadi tempat bersandar.

Ada doa yang diam-diam dipanjatkan.

Dan ada dua hati yang, meskipun berkali-kali diuji oleh kehidupan, tetap memilih untuk pulang kepada orang yang sama.

Pada akhirnya, rumah bukan sekadar bangunan tempat seseorang berteduh. Rumah adalah tempat hati menemukan alasan untuk kembali.

Semoga Kuswanto dan Karsini kelak mampu menjadikan rumah tangganya sebagai tempat tumbuhnya kasih sayang, ketenteraman, dan keberkahan; tempat di mana lelah menemukan pelukan, kesedihan menemukan penghiburan, dan setiap persoalan menemukan jalan keluar melalui percakapan yang penuh kasih.

Karena menjaga kehangatan rumah tangga pada hakikatnya bukan pekerjaan satu hari.

Ia adalah pekerjaan sepanjang usia—merawat cinta sedikit demi sedikit, setiap hari, sampai kelak rambut memutih dan langkah mulai melambat, tetapi keduanya masih mampu berkata: “Terima kasih sudah menemaniku sampai sejauh ini.”