HUT RI #81

Jangan Biarkan Rasa Bosan Meredupkan Cinta, Bimwin KUA Jatilawang

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
22 Okt 2026
10x dibaca
Diubah oleh yudi pada 22-10-2026 12:24
SHARE

Jatilawang — Cinta yang dahulu membuat dua hati saling mencari, terkadang diuji oleh waktu yang berjalan tanpa jeda. Percakapan yang dulu terasa istimewa perlahan menjadi rutinitas, perhatian yang dahulu dinanti mulai dianggap biasa, dan kebersamaan yang pernah dirindukan sesekali terasa hambar. Namun, benarkah rasa bosan menjadi pertanda bahwa cinta telah berakhir? Pertanyaan itulah yang menjadi ruang refleksi dalam konsultasi Purnama Ady Saputra dan Lendi Nanda Safira kepada Ulul Albab, Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, mengenai tips mengatasi rasa bosan terhadap pasangan. (Kamis, 22/10)

Dalam konsultasi tersebut, Ulul Albab mengingatkan bahwa kejenuhan dapat hadir dalam perjalanan sebuah hubungan. Rutinitas, kesibukan, persoalan sehari-hari, dan komunikasi yang semakin berkurang bisa membuat hubungan kehilangan kehangatannya. Meski demikian, rasa bosan tidak selalu berarti cinta telah padam. Terkadang, hubungan hanya membutuhkan perhatian baru, komunikasi yang lebih terbuka, serta kesediaan untuk kembali memahami satu sama lain.

Menurut Ulul Albab, salah satu langkah penting untuk mengatasi kejenuhan adalah membangun kembali komunikasi dari hati ke hati. Pasangan perlu menyediakan waktu untuk berbicara tanpa terganggu pekerjaan maupun gawai. Mendengarkan keluh kesah, menanyakan kabar dengan tulus, dan memberi ruang bagi pasangan untuk menyampaikan perasaannya merupakan bentuk perhatian yang sering kali lebih berharga daripada hadiah mahal.

Selain itu, pasangan perlu membiasakan diri menghargai hal-hal kecil. Ucapan terima kasih atas bantuan sederhana, pujian yang tulus, serta perhatian ketika pasangan sedang lelah dapat menghadirkan kembali kehangatan yang mungkin mulai memudar.

Sebab, tidak semua hati terluka karena persoalan besar. Ada pula hati yang perlahan menjauh karena terlalu lama merasa tidak diperhatikan.

Langkah berikutnya adalah menciptakan pengalaman baru bersama. Pasangan dapat meluangkan waktu untuk berjalan-jalan, memasak bersama, menjalankan hobi, atau mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan indah. Kegiatan sederhana tersebut dapat membantu memecah rutinitas sekaligus membuka kesempatan untuk membangun kembali kedekatan emosional.

Ulul Albab juga menekankan pentingnya menerima kekurangan pasangan. Setelah menjalani hubungan dalam waktu yang panjang, seseorang akan semakin mengenal sisi-sisi pasangannya yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Di sinilah kedewasaan cinta diuji: apakah perbedaan menjadi alasan untuk saling menyakiti, atau justru kesempatan untuk belajar memahami?

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa kekurangan, melainkan hubungan yang memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan satu sama lain.

Sebagai Penghulu KUA Jatilawang, Ulul Albab turut mengingatkan pentingnya menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam membangun hubungan yang harmonis. Pasangan perlu saling mengingatkan dalam kebaikan, membiasakan doa, serta menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan bersama.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 21 tentang penciptaan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta tentang kasih sayang yang Allah tumbuhkan di antara mereka.

Nilai sakinah, mawaddah, wa rahmah menjadi pengingat bahwa hubungan yang baik bukan hanya tentang kebahagiaan saat semuanya berjalan sesuai keinginan. Lebih dari itu, hubungan membutuhkan ketenteraman ketika masalah datang, kasih sayang ketika kekurangan terlihat, dan rahmat ketika masing-masing sedang berjuang menghadapi kesulitan.

Rasa bosan juga perlu dibicarakan secara jujur dan bijaksana. Pasangan sebaiknya tidak membiarkan kejenuhan berubah menjadi sikap acuh tak acuh atau pertengkaran berkepanjangan. Sampaikan perasaan tanpa menyudutkan, dengarkan pasangan tanpa terburu-buru menghakimi, dan sepakati langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan bersama.

Memberikan ruang pribadi yang sehat pun tidak kalah penting. Setiap orang membutuhkan waktu untuk beristirahat, mengembangkan diri, dan menjalani aktivitas positif. Kedekatan yang baik bukan berarti harus selalu bersama setiap saat, melainkan tetap saling percaya dan menjaga komitmen meskipun masing-masing memiliki kesibukan.

Di balik nasihat tersebut, tersimpan sebuah renungan sederhana: jangan sampai seseorang begitu sibuk mencari kebahagiaan yang baru hingga lupa menghargai orang yang dahulu bersedia berjalan bersamanya.

Mungkin dahulu, ada doa panjang sebelum dua hati dipertemukan. Ada keberanian untuk menerima kekurangan, ada harapan yang dibangun bersama, dan ada janji untuk saling menguatkan ketika kehidupan tidak selalu ramah.

Waktu boleh mengubah banyak hal. Wajah dapat menua, kesibukan bertambah, dan keadaan tidak selalu sesuai dengan impian. Namun, semua itu tidak harus menghapus ketulusan yang pernah menjadi alasan untuk bertahan.

Cinta yang matang tidak selalu hadir sebagai debar yang menggetarkan dada. Terkadang, cinta menjelma menjadi kesediaan untuk tetap mendengarkan setelah hari yang melelahkan, kesabaran menghadapi perbedaan, dan ketulusan menggenggam tangan pasangan ketika dunia terasa berat.

Melalui konsultasi tersebut, Purnama Ady Saputra dan Lendi Nanda Safira diharapkan memperoleh pemahaman bahwa menjaga hubungan merupakan proses yang membutuhkan usaha bersama. Tidak ada satu pihak yang harus terus-menerus memperjuangkan keharmonisan sendirian. Kedua hati perlu sama-sama bersedia memperbaiki komunikasi, menumbuhkan perhatian, dan menjaga kepercayaan.

Pada akhirnya, rasa bosan tidak harus menjadi akhir sebuah kisah. Ia dapat menjadi pengingat bahwa cinta perlu dirawat, bukan sekadar dikenang; perlu diperjuangkan, bukan hanya diucapkan.

Sebab, cinta yang bertahan bukan selalu cinta yang bebas dari kejenuhan, melainkan cinta yang membuat dua orang bersedia belajar kembali untuk saling memahami. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti kehadiran, jangan menunggu perpisahan untuk kembali memberi perhatian. Selagi masih ada kesempatan, rawatlah cinta dengan ketulusan—agar rumah yang dibangun bersama tetap menjadi tempat hati pulang, bukan tempat dua jiwa perlahan merasa asing.