HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Jelaskan Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional di TPQ Nurul Huda

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
22 Okt 2026
17x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 22-10-2026 12:40
SHARE

Jatilawang — Sejarah tidak hanya ditulis dengan tinta di atas kertas, tetapi juga dengan keberanian, pengorbanan, dan doa-doa panjang yang dipanjatkan oleh mereka yang mencintai negeri. Semangat itulah yang dikenalkan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kepada para santri TPQ Nurul Huda melalui penjelasan tentang sejarah lahirnya Hari Santri Nasional. Kamis (22/10)

Dalam suasana pembelajaran yang penuh semangat, Muhammad Taubah mengajak para santri memahami bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan tahunan yang dirayakan dengan upacara, kirab, atau mengenakan sarung dan peci. Lebih dari itu, Hari Santri merupakan pengingat atas jejak perjuangan para ulama dan santri yang turut mempertaruhkan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia menjelaskan, penetapan Hari Santri Nasional berawal dari pengakuan terhadap peran besar kaum santri dalam perjalanan sejarah bangsa. Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah ketika Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menggerakkan semangat umat Islam, khususnya para santri dan masyarakat, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan. Semangat tersebut menjadi salah satu latar penting perjuangan yang berpuncak pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Muhammad Taubah menuturkan bahwa para santri pada masa perjuangan tidak hanya menghabiskan waktu untuk mempelajari kitab-kitab di pesantren. Ketika bangsa memanggil, mereka turut berdiri di barisan perjuangan. Ilmu agama yang dipelajari tidak menjadikan mereka berpaling dari persoalan bangsa, melainkan menumbuhkan keberanian untuk membela tanah air.

Dari pesantren-pesantren sederhana, semangat perjuangan tumbuh dan menyebar. Para santri membawa bekal doa, keyakinan, dan kecintaan kepada negeri. Mereka mengajarkan bahwa menjadi orang beragama bukan berarti menjauh dari kehidupan berbangsa, tetapi menghadirkan nilai-nilai agama untuk menegakkan keadilan, menjaga persaudaraan, dan merawat kemanusiaan.

Kisah tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para santri TPQ Nurul Huda. Mereka diajak menyadari bahwa kesempatan belajar mengaji dengan tenang hari ini merupakan nikmat yang tidak boleh disia-siakan. Ada generasi terdahulu yang berjuang agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dalam kemerdekaan, menuntut ilmu, dan menjalankan ibadah tanpa belenggu penjajahan.

Dalam penjelasannya, Muhammad Taubah juga mengajak para santri untuk meneruskan semangat perjuangan sesuai dengan tantangan zaman. Jika dahulu para santri berjuang mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, menghormati orang tua dan guru, menjaga akhlak, serta menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.

Para santri perlu memahami bahwa kecintaan kepada agama dan tanah air harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Rajin mengaji, berkata jujur, menghormati perbedaan, membantu sesama, dan menjaga persatuan merupakan bentuk pengabdian yang dapat dimulai sejak usia dini.

Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki hati nurani. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sedangkan semangat tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan tujuan. Karena itu, pendidikan di TPQ memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membentuk karakter anak-anak yang mencintai kedamaian.

Melalui kegiatan penyuluhan tersebut, Muhammad Taubah berharap para santri TPQ Nurul Huda semakin mengenal sejarah Hari Santri Nasional dan memahami nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya. Peringatan Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada kemeriahan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kesadaran untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, sejarah perjuangan santri mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari seorang anak yang tekun membaca Al-Qur’an, seorang santri yang menghormati gurunya, atau seseorang yang memilih berbuat baik ketika orang lain memilih berpaling.

Sebab, kemerdekaan yang diwariskan para pejuang akan menemukan maknanya ketika generasi penerus mampu menjaga agama, memuliakan sesama, dan mencintai tanah air dengan akhlak yang luhur. Dari ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar mengeja ayat suci, semoga tumbuh generasi santri yang kelak meneruskan perjuangan, bukan dengan kebencian, melainkan dengan ilmu, iman, dan kasih sayang.