Keikhlasan Menerima Kekurangan Suami Dan Istri
Banyumas — Ruang Bimbingan Perkawinan di KUA Jatilawang pagi itu terasa berbeda. Tidak ada gema tepuk tangan, tidak pula sorak bahagia. Yang hadir justru keheningan yang khusyuk, seolah setiap dinding ikut mendengarkan pesan-pesan tentang cinta, keikhlasan, dan penerimaan yang akan menentukan arah sebuah kehidupan rumah tangga. Jum’at, (06/02)
Di hadapan sepasang Calon Pengantin, Reza Adytia dan Nisa Rani, berdiri Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang. Dengan tutur yang tenang dan penuh empati, ia menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang tidak sekadar mengajarkan tata cara membangun rumah tangga, tetapi menyentuh inti terdalam dari pernikahan itu sendiri: keikhlasan menerima kekurangan suami dan istri.
“Tidak ada manusia yang datang ke pernikahan dalam keadaan sempurna,” ucapnya lirih namun tegas. “Yang ada hanyalah dua insan yang membawa luka, harapan, dan keterbatasan—lalu berjanji untuk saling menjaga di hadapan Allah.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, seperti hujan pertama di tanah yang lama kering. Reza dan Nisa duduk berdampingan, sesekali saling menatap, seakan mulai memahami bahwa cinta bukan hanya tentang bahagia, tetapi juga tentang kesiapan memeluk ketidaksempurnaan.
Muhammad Taubah menjelaskan bahwa pernikahan bukan ruang untuk menuntut pasangan menjadi ideal, melainkan ladang amal untuk belajar sabar, memaafkan, dan menguatkan. Ia menekankan bahwa keikhlasan adalah pondasi yang akan menahan rumah tangga ketika badai datang—ketika kata-kata melukai, ketika harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan.
Dalam suasana yang hening, nasihat itu menjelma doa. Ada jeda panjang, dan pada jeda itulah, air mata nyaris tumpah. Bukan karena sedih, melainkan karena sadar: mencintai berarti bersedia menerima, bahkan saat hati diuji.
“Jika suatu hari kalian lelah,” lanjutnya, “ingatlah bahwa pasanganmu bukan musuhmu. Ia adalah amanah. Ia adalah jalanmu menuju surga.”
Bimbingan Perkawinan ini merupakan bagian dari komitmen KUA Jatilawang dalam menyiapkan calon pengantin tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara spiritual dan emosional. Sebab pernikahan, sebagaimana ditekankan Muhammad Taubah, bukan sekadar perayaan satu hari, melainkan ibadah seumur hidup.
Ketika sesi berakhir, Reza dan Nisa menundukkan kepala. Di wajah mereka tergambar keteguhan yang baru tumbuh—bahwa perjalanan rumah tangga kelak tidak selalu mudah, namun akan selalu bermakna jika dilalui dengan ikhlas.
Di ruangan sederhana itu, sebelum akad terucap, telah lahir sebuah janji yang lebih sunyi namun lebih dalam: janji untuk saling menerima, bahkan pada bagian yang paling rapuh. Dan di situlah, cinta menemukan bentuknya yang paling mulia.
