Kepedulian Jadi Obat Yang Sangat Bermakna

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di setiap ruang perawatan, selalu ada kisah tentang perjuangan. Ada tubuh yang sedang berikhtiar melawan sakit, ada keluarga yang tak henti memanjatkan doa, dan ada harapan yang terus dijaga agar tidak padam. Di tengah suasana itulah, sentuhan kepedulian menjadi obat yang tak kalah bermakna dibandingkan terapi medis. Rabu (01/07)

Wujud kepedulian tersebut ditunjukkan oleh Abdul Khanan, Dedy Purwanto, dan Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, yang mengunjungi Sukarto, warga Desa Adisara, yang sedang menjalani perawatan akibat tekanan darah tinggi di Puskesmas Kecamatan Jatilawang.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pelayanan keagamaan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak hanya membawa pesan keagamaan, ketiga penyuluh hadir sebagai sahabat yang menguatkan hati, menemani langkah ikhtiar, serta mengingatkan bahwa di balik setiap ujian selalu tersimpan kasih sayang Allah SWT.

Dengan penuh kelembutan dan kesabaran, Abdul Khanan, Dedy Purwanto, dan Dwi Astuti memberikan bimbingan mengenai tata cara bertayamum bagi orang yang sedang sakit dan tidak memungkinkan menggunakan air. Mereka juga mengajarkan tata cara melaksanakan salat dalam keadaan sakit sesuai tuntunan syariat Islam, sehingga ibadah tetap dapat dijalankan dengan tenang tanpa memberatkan kondisi fisik pasien.

Usai memberikan bimbingan, mereka mengajak Sukarto menengadahkan tangan, memohon kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan, diangkat penyakitnya, dilapangkan hatinya, dikuatkan lahir dan batinnya, serta diberikan kesehatan yang sempurna agar dapat kembali berkumpul bersama keluarga dan beraktivitas seperti sediakala.

Di sela-sela doa, mereka juga menyampaikan untaian motivasi yang menghangatkan jiwa. Bahwa setiap rasa sakit bukanlah tanda Allah menjauh, melainkan panggilan agar seorang hamba semakin dekat kepada-Nya. Bahwa kesabaran yang dijalani dengan penuh keikhlasan akan bernilai ibadah, dan setiap tetes air mata yang jatuh dalam kepasrahan tidak pernah luput dari kasih sayang Sang Maha Penyayang.

Perlahan, suasana ruang perawatan berubah menjadi lebih teduh. Wajah Sukarto yang semula tampak letih mulai memancarkan ketenangan. Keluarga yang mendampingi pun merasakan kesejukan batin, seolah beban yang mereka pikul menjadi lebih ringan ketika doa dipanjatkan bersama dan semangat kembali ditumbuhkan.

Pelayanan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa Penyuluh Agama tidak hanya hadir di ruang-ruang pembinaan umat, tetapi juga menjangkau masyarakat yang sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya. Mereka hadir membawa ilmu yang memudahkan ibadah, doa yang menguatkan hati, dan kepedulian yang menumbuhkan harapan.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen KUA Jatilawang untuk terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang humanis, inklusif, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Pelayanan tidak hanya diwujudkan melalui administrasi dan pembinaan, tetapi juga melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan pendampingan spiritual.

Di ruang perawatan yang sederhana itu, Abdul Khanan, Dedy Purwanto, dan Dwi Astuti kembali mengajarkan bahwa pengabdian sejati bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, melainkan juga tentang merangkul mereka yang sedang terluka, menguatkan yang hampir putus asa, serta menyalakan kembali harapan di hati yang sedang redup. Sebab terkadang, kesembuhan memang datang melalui obat dan perawatan, tetapi semangat untuk bangkit lahir dari doa yang tulus, kasih sayang yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersabar.